Nilai pendidikan Tauhid Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahamd Tohari - tajukkisto

Nilai pendidikan Tauhid Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahamd Tohari

Bedah buku Ronggeng Dukuh Paruk agenda yang di selenggarakan oleh Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) pada Kamis, 15 Juni 2023 sebagai bagian dari upaya menyemarakkan literasi di kampus. Bertempat di Aula Gd. AR.Fachrudin. Acara ini hadirkan pembedahan yang terkandung dalam novel. Peserta terdiri dari sivitas akademika serta pencinta sastra yang antusias mengapa novel karya Ahmad Tohari ini telah viral terjual bahakan hingga mancanegara.


 Nilai pendidikan Tauhid Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahamd Tohari 



Tulisan ini lahir dari catatan peserta yang hadir dalam acara bedah buku Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang digelar oleh Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Lewat acara ini, Perpus UMP mencoba mengajak warga kampus kembali akrab dengan sastra. 

Proses 

Peristiwa apa yang terjadi pada tahun 1982?

Tahun 1982 bisa dibilang sebagai tahun kelahiran sebuah karya yang lahir dari kegelisahan panjang penulisnya. Buku Ronggeng Dukuh Paruk tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh dari ingatan kolektif tentang masa-masa sulit sejak 1960-an, ketika kemiskinan begitu merata dan makanan sehari-hari sering kali hanya singkong rebus atau pisang rebus. Lalu datang peristiwa 1965—masa kelam yang ditandai pemberontakan PKI, dengan cerita-cerita ketegangan yang bahkan sampai menyebut wilayah Jatilawang. Semua itu membekas kuat dan menjadi bahan bakar batin bagi sang penulis.

Kegelisahan itu mulai ditumpahkan sejak masih duduk di kelas 2 atau 3 sekolah, awalnya dalam bentuk tulisan yang sarat kekecewaanbahkan kepada kekuasaan, termasuk kepada Presiden Soeharto kala itu. Perjalanan kepenulisan ini tidak lurus-lurus amat. Ia sempat terjun ke dunia sastra justru setelah dikeluarkan (DO) dari Fakultas Kedokteran. Dari situlah keterampilan berbahasa Indonesia diasah dengan serius: bahasanya rapi, final, tapi tetap memikat pembaca. Memasuki era 1980-an, tulisannya mulai dimuat di Harian Kompas dalam format cerita bersambung—format yang sangat digemari saat itu, ketika koran menjadi sumber utama informasi. Saat tulisannya terbit dan menghasilkan honor, di sanalah muncul rasa percaya diri: bahwa menulis bukan sekadar curhat kegelisahan, tapi juga peran sosial. Dan pada 1982, semua proses panjang itu menjelma menjadi buku yang kelak dianggap sebagai salah satu karya sastra penting Indonesia.


Ketika novel kemudian difilmkan, itu bukan sekadar alih wahana cerita, melainkan bentuk penghargaan terhadap seniman dan kerja kreatifnya. Pesannya sederhana tapi dalam: bacalah karya itu baik-baik, karena tafsir yang lahir dari pembacaan itulah yang kelak akan diterjemahkan ke layar lebar. Film bukan menyalin mentah-mentah teks, melainkan menafsirkan jiwa cerita—dan tafsir itu sangat bergantung pada seberapa sungguh-sungguh kita membaca.

Soal menulis, pesannya juga membumi: semua orang sebenarnya bisa menulis. Tidak perlu menunggu jadi sastrawan besar dulu. Yang penting adalah memantapkan diritujuan, niat, dan keberanian. Bahkan ketika bepergian pun, seseorang perlu tahu hendak ke mana, sama seperti saat menulis: tahu untuk apa ia menulis. Karena pada akhirnya, menulis bukan hanya soal menghasilkan karya, tapi juga soal menghadirkan diri. Seperti pengakuan sederhana namun kuat itu: aku menulis, maka lahirlah aku.

Cara membaca novel initerutama bagi anak pesantrenmemang perlu pendampingan, supaya tidak tergelincir pada penafsiran yang keliru. Bukan karena isinya menyesatkan, tapi karena lapisan maknanya cukup dalam. Buku ini sejatinya mengajak pembaca untuk beriman lewat jalan sastra, bukan lewat ceramah atau dalil yang kaku. Ia menyuguhkan perjalanan panjang seorang manusia dalam mencari makna hidup, lengkap dengan jatuh bangun, kegelisahan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu langsung mendapat jawaban.

Nama-nama tokohnya pun lahir dari tradisi desa, bukan asal tempel. Konsep Srintil dan Rasus terinspirasi dari tradisi penamaan di Desa Gerduren, Kecamatan Purwojati, yang gemar menggunakan nama-nama tidak biasa sebagai bentuk meneruskan kebiasaan lokal. Srintil sendiri berasal dari nama pohonmenegaskan kedekatan tokoh ini dengan alam dan tradisi. Sementara nama Rasus muncul dari pengalaman sederhana tapi membekas: suatu sore, di depan rumah, melintas seorang kakek bernama Suta. Dari situ, penulis tertarik pada namaRasuskarena terdengar aneh, unik, dan punya daya hidup

Sejak kecil, kegelisahan itu sudah tumbuhbahkan berangkat dari satu kata sederhana yang termaktub dalam Al-Qur’an: iqra, bacalah. Kata itu seperti menghantui sekaligus menantang. Membaca apa? Teks saja, atau juga kehidupan? Kegelisahan semacam inilah yang kemudian menjelma dalam novel-novelnya, yang bagi sebagian orang terasaterlalu beraniuntuk ukuran zamannya. Bahkan, pernah ada masa ketika ia ditangkap, dan rumahnya didatangi mobil jeep saat ia sedang berada di Jakarta—sebuah penanda bahwa karya sastra bisa dianggap berbahaya jika terlalu jujur membaca realitas.

Cara mengolah latar dan suasana dalam karyanya pun tidak asal detail. Semua gejala alam dibacaiqrasebagai teks kehidupan. Pohon randu yang berbunga dan mengeluarkan kapas bukan sekadar latar, tapi tanda yang harus diamati dengan sabar. Penulis memosisikan diri bukan sebagai orang yang sok tahu, melainkan sebagai pengamat: berdiri di sudut pandang pembaca, melihat, merasakan, lalu membiarkan makna muncul sendiri. Alam dipandang dengan sudut religiusbukan menggurui, tapi mengingatkan.

Mungkin semua itu berakar dari masa kecilnya, ketika telinga sudah akrab dengan suara ngaji. Ayat-ayat Al-Qur’an bukan sekadar hafalan, tapi gema yang membentuk cara pandang. Maka iqra tidak lagi sekadar perintah membaca tulisan, melainkan ajakan membaca alam, peristiwa, dan manusiadengan pelan, jujur, dan penuh kesadaran.


Guru Spiritual dan Ketauhidan dalam Novel

Bagi sang penulis, guru spiritual pertama ternyata bukan tokoh besar atau kiai ternama, melainkan sosok yang paling dekat: ibu sendiri. Dari ibunya inilah nilai-nilai keimanan ditanamkan secara sederhana tapi konsisten, lewat keseharian yang apa adanya. Seiring bertambah dewasa, lingkar pergaulannya pun meluas. Ia mulai bersentuhan dengan tokoh-tokoh besar—kalau pakai istilah Jawa, ngalap berkah—belajar dari laku hidup dan keteladanan mereka, bukan cuma dari omongan.

Soal laku spiritual, caranya juga jauh dari kesan ribet. Dzikir dilakukan sebelum tidur, lalu diteruskan kapan pun ada waktu luang. Bahkan saat tidak sedang melakukan apa-apa, batinnya tetap dijaga agar tidak kosong. Waktu, bagi dia, tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Dalam bahasa Jawa ini disebut eling, dalam bahasa Arab dikenal sebagai dzikir—intinya sama: selalu ingat. Dari kebiasaan inilah ketertarikannya pada ajaran sufisme tumbuh, belajar memaknai hidup secara lebih dalam, pelan, dan penuh kesadaran.

Nilai-nilai itu kemudian tercermin dalam novelnya. Di Dukuh Paruk, ketauhidan nyaris tak punya tempat—kehidupan spiritual warganya lebih dekat pada tradisi dan naluri kolektif ketimbang kesadaran ketuhanan. Di tengah kondisi itu, tokoh utama hadir membawa kegelisahan: keinginan untuk mengubah kampungnya agar lebih bertata krama, lebih beradab, dan perlahan mengenal nilai-nilai ketauhidan. Bukan dengan ceramah keras, tapi lewat kesadaran, laku hidup, dan pencarian makna.


Tips


Pentingnya menyusun Bahasa Indonesia dengan baik dalam penulisan sering kali luput dari perhatian, padahal di situlah letak kenikmatan sebuah karya. Bahasa yang tertata rapi bisa membuat sesuatu yang sebenarnya vulgar terasa tidak vulgarbukan karena disamarkan, tapi karena disampaikan dengan tata bahasa yang tepat dan berkelas. Kata-kata dipilih dengan sadar, kalimat disusun dengan rasa, sehingga pembaca tidak merasa digurui atau disodori sensasi murahan.

Dalam dunia menulis, imajinasi tidak bisa dipisahkan dari intelektualitas. Imajinasi adalah kerja akal sekaligus rasa. Orang yang kaya imajinasi biasanya lebih cepat berkembang cara berpikirnya, karena ia terbiasa membayangkan kemungkinan, membaca tanda, dan melihat sesuatu dari banyak sudut. Tapi kecerdasan imajinasi tidak datang tiba-tibaia perlu dilatih, diasah, dan dibiasakan, salah satunya lewat membaca dan menulis secara tekun.

Lalu soal jadi penulis di Indonesia, ada satu kalimat jujur tapi menggelitik: menjadi penulis itu identik dengan hidup sederhanabahkan kadang miskin—tapi tetap keren

0 Response to "Nilai pendidikan Tauhid Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahamd Tohari "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel