Memaknai proyek jembatan yg bukan sekadar beton dalam novel "Orang-orang proyek" karya Ahamad Tohari - tajukkisto

Memaknai proyek jembatan yg bukan sekadar beton dalam novel "Orang-orang proyek" karya Ahamad Tohari




Novel Orang-Orang Proyek bercerita tentang sekelompok pekerja proyek jembatan yang berada di bawah kepemimpinan seorang mandor sekaligus insinyur muda bernama Kabul. Ia bukan mandor biasa. Kabul adalah sosok idealis yang masih memegang teguh ilmu teknik yang ia pelajari di bangku kuliah. Baginya, membangun jembatan bukan sekadar menyelesaikan proyek, tetapi soal tanggung jawab moral: jembatan harus kuat, aman, dan sesuai anggaran yang telah ditetapkan.

Sejak awal memegang proyek jembatan di daerah terpencil, Kabul sudah dihadapkan pada kenyataan pahit dunia proyek. Anggaran yang seharusnya digunakan untuk membeli bahan berkualitas justru banyakdipangkas” oleh atasan-atasannya. Praktik korupsi dianggap hal biasa, wajar, bahkan sudah menjadi tradisi. Namun bagi Kabul, hal itu sangat bertentangan dengan prinsip hidup dan keilmuannya. Ia merasa tidak pantas disebut insinyur teknik jika harus membangun jembatan yang secara perhitungan hanya mampu bertahan dua tahun dan setelah itu harus diperbaiki lagi.

Di tengah konflik batin mempertahankan idealisme, Kabul juga menghadapi persoalan cinta. Ia jatuh hati pada Wati, salah satu pegawai proyek. Namun masalahnya, Wati sudah memiliki pacar. Sekali lagi, sifat idealis Kabul muncul. Ia memilih menjaga jarak karena merasa tidak etis mendekati perempuan yang sudah punya pasangan. Baginya, itu sama saja dengan mengkhianati orang lain, meskipun sebenarnya Wati diam-diam juga menaruh perasaan pada Kabul.

Hubungan Wati dengan pacarnya sendiri sedang tidak baik-baik saja. Wati ingin segera menikah, sementara sang pacar yang masih kuliah belum siap dan ingin fokus menyelesaikan studinya. Konflik ini membuat Wati tertekan hingga jatuh sakit. Di saat itulah Kabul menunjukkan empatinya. Namun Wati belum bisa menerima perasaan Kabul sepenuhnya karena masih ingin memperbaiki hubungannya dengan sang pacar dan mencari kejelasan.

Akhirnya, Wati dan pacarnya bertemu di lokasi proyek dan berdialog dengan jujur. Mereka menyadari bahwa kondisi dan tujuan hidup mereka sudah tidak sejalan. Dengan berat hati, keduanya memilih berpisah secara baik-baik. Dari momen itulah Kabul mulai merasa bahwa mungkin Wati memang ditakdirkan untuknya. Ia pun mencoba membangun kembali komunikasi, perlahan mendekat secara emosional dan batin.

Sementara urusan hati mulai menemukan titik terang, masalah di proyek justru semakin rumit. Jembatan harus selesai lebih cepat dari jadwal karena akan diresmikan bertepatan dengan HUT Golkar, partai politik yang sangat berkuasa pada masa itu. Waktu makin sempit, bahan tidak sesuai spesifikasi, dan tekanan dari atasan semakin kuat. Kabul sadar, jika proyek ini dipaksakan, ia akan menanggung beban moral besar karena jembatan itu berisiko tidak aman.

Dengan keyakinan penuh, Kabul kembali mengajukan resign. Alasannya jelas: ia tidak sanggup bertanggung jawab atas jembatan yang dibangun tanpa perhitungan teknik yang benar. Ia memilih berhenti daripada harus mengkhianati hati nurani dan ilmunya sendiri. Keesokan harinya, ia benar-benar menemui atasannya di lokasi proyek dan memutuskan mundur secara resmi.

Meski sudah tidak terlibat, Kabul tetap menghadiri acara peresmian jembatan. Ia menyaksikan para pejabat dan petinggi bersuka ria, berpidato penuh kebanggaan, tanpa benar-benar memikirkan kelayakan dan keamanan jembatan tersebut. Di hati Kabul ada rasa sakit dan kecewa, karena jembatan yang ia rancang dengan sungguh-sungguh kini berdiri dengan kualitas yang jauh dari harapannya.

Setelah keluar dari proyek, Kabul melanjutkan hidupnya bersama Wati. Dua tahun berlalu, dan kenyataan membuktikan kekhawatiran Kabul. Jembatan itu rusak, bahkan amblas di beberapa bagian, tepat seperti yang telah ia perhitungkan sejak awal. Peristiwa itu seolah menjadi bukti bahwa idealisme Kabul bukan sekadar keras kepala, melainkan bentuk tanggung jawab seorang insinyur sejati.

Secara keseluruhan, Orang-Orang Proyek bukan hanya cerita tentang pembangunan jembatan, tetapi juga tentang benturan antara idealisme dan realitas, antara nurani dan kekuasaan, serta tentang bagaimana seseorang tetap memilih jujur meski harus kehilangan jabatan dan kenyamanan hidup.

0 Response to "Memaknai proyek jembatan yg bukan sekadar beton dalam novel "Orang-orang proyek" karya Ahamad Tohari"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel