Jadi Santri Figuran di Film Pembunuhan Dukun Santet: Morning Establishing Shot dan Set design pesantrennya terasa megah dan detail. - tajukkisto

Jadi Santri Figuran di Film Pembunuhan Dukun Santet: Morning Establishing Shot dan Set design pesantrennya terasa megah dan detail.

 Jadi Santri Figuran di Film Pembunuhan Dukun Santet: Morning Establishing Shot dan Set design pesantrennya terasa megah dan detail.




Saya tidak pernah bercita-cita masuk bioskop. Hidup saya selama ini cukup puas berputar di dunia latihan teater, panggung sederhana, dan tepuk tangan yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari—itu pun kalau penontonnya niat. Tapi hidup, seperti sutradara yang kehabisan angle, kadang suka belok tiba-tiba.


Suatu waktu, saya sedang aktif bermain di salah satu teater kampus di Cirebon. Dari sanalah kabar itu datang: ada produksi film layar lebar, butuh banyak figuran, dan entah kenapa, hampir semua teman teater saya ikut terlibat. Efek ikut-ikutan yang sulit dihindari. Akhirnya saya pun ikut. Bukan karena yakin bakal terkenal, tapi karena penasaran bagaimana dunia syuting Film bekerja.


Hari syuting dimulai di jam yang super pagi brutal Jam empat pagi. Kami sudah berkumpul di satu titik, dengan mata setengah terpejam dan tubuh yang belum sepenuhnya ikhlas bangun. Cirebon masih gelap. Jalanan lengang. Udara dingin. Kopi jadi semacam ritual penyelamatan iman.


Kami berangkat bersama menuju lokasi syuting yang berada di kawasan wisata. Tempat yang biasanya ramai oleh keluarga dan rombongan foto-foto, pagi itu berubah jadi dunia lain: kesibukan tiap kru, penuh kabel, lighting, Genset dan orang-orang yang tahu persis apa yang harus mereka lakukan. Kami? Ya, figuran. Tugas kami menunggu arahan. 


Begitu sampai, kantuk saya langsung tergeser oleh satu hal: set-nya. Saya tidak tahu harus menyebutnya apa selain “terlalu niat”. Mading model lama, asrama pesantren, warna yg menggambarkan latar bukan jaman sekarang, detail-detail kecil yang realistis di lihat mata telanjang. Rasanya pengalaman yang menggemberikan, orang orang film menamainya Set, sempat ada yg woro woro di Toa "Untuk kru di larang merokok di area Set." 


Kami diberi kostum santri, tepatnya kostum madrasah santri, Hijau putih ples kopiah. Dan bukan santri sembarang santri—kami adalah santri tahun 1998. Tahun ketika hidup belum secepat sekarang, dan isu bisa menyebar tanpa perlu internet. Kami diminta menahan semua gerak modern. Tidak boleh refleks. Tidak boleh terlalu sadar diri. Jadilah bagian dari masa lalu.


Take pertama adalah adegan yang, entah kenapa, terasa istimewa. Suasana santri berangkat ke madrasah. Dan diambil tepat saat matahari terbit.


Langit perlahan berubah warna. Cahaya jingga masuk pelan-pelan ke sela bangunan. Kami berjalan membawa kitab, pelan, tenang, seolah ini pagi yang biasa. Sutradara bilang “Action”, dan untuk beberapa detik saya lupa kalau sedang akting. Cahaya pagi itu terlalu jujur. Terlalu indah untuk pura-pura.


Adegan itu diulang. Lagi. Dan lagi. Tapi setiap ulangannya tetap punya rasa. Matahari naik sedikit demi sedikit, suasana berubah, dan kami tetap berjalan sebagai santri yang belum tahu cerita akan menjadi gelap. Saya paham kenapa sineas rela bangun subuh demi cahaya seperti ini. Ada hal yang tidak bisa digantikan lampu.


Setelah itu, dunia figuran kembali ke kodratnya: menunggu. Berdiri. Duduk. Jalan. Ulang. Menunggu. Tapi entah kenapa, setelah adegan matahari terbit itu, rasa capeknya terasa lebih masuk akal. Seolah kami sudah ikut sesuatu yang penting.


Di sela menunggu, saya ngobrol dengan salah satu asisten sutradara. Latar belakangnya teater. Dari obrolan santai itu, saya sadar betapa dunia teater dan film ternyata saling bertaut. Kepekaan ruang, rasa ritme, dan perhatian pada detail kecil—semua itu hidup di lapangan. Bahkan untuk mengatur figuran seperti kami, ada pertimbangan artistik yang serius.


Di sekitar lokasi, saya juga beberapa kali berpapasan dengan para pemain utama. Wajah-wajah yang biasanya hanya saya lihat di layar. Aura mereka tenang. Profesional. Tidak banyak gaya. Datang, bekerja, fokus, lalu pergi. Melihat mereka dari dekat justru membuat satu hal jelas: akting yang terlihat alami itu hasil dari disiplin panjang.


Yang menarik, meski ini produksi besar dengan nama-nama besar, suasana kerjanya tetap kolektif. Tidak ada yang merasa paling penting. Bahkan figuran seperti kami tetap diarahkan dengan detail. Posisi berdiri, arah pandang, jarak antar tubuh—semua diperhatikan. Kami bukan sekadar pengisi layar, tapi pembangun suasana.


Cerita film ini pelan-pelan bergerak ke arah yang gelap. Isu ketakutan massal, tuduhan, dan kekerasan sosial. Dan justru karena itu, latar pesantren yang tenang terasa makin kontras. Set yang super realistis membuat semua itu terasa dekat. Terlalu dekat.


Capek? Jelas. Berdiri lama, panas, lapar, dan berkali-kali diulang. Tapi sebagai orang teater, saya akrab dengan rasa itu. Bedanya, di sini skalanya jauh lebih besar. Bahkan matahari terbit pun diperlakukan sebagai elemen cerita, bukan kebetulan alam.


Saat syuting selesai dan kami pulang, badan pegal, kepala penuh. Saya tidak berubah jadi aktor film. Hidup saya tetap berjalan seperti biasa. Tapi sekarang saya tahu satu hal: film tidak lahir dari kemewahan, tapi dari kesabaran. Dari orang-orang yang rela bangun jam empat pagi demi satu adegan beberapa detik.


Dan saya, yang hari itu hanya santri figuran tahun 1998, ikut menjadi bagian kecil dari kesabaran itu.


Kalau suatu hari Anda menonton film tentang pesantren, kerumunan santri, atau pagi yang terasa hidup, mungkin Anda tidak akan sadar ada saya di sana. Tidak apa-apa. Karena beberapa pengalaman memang tidak perlu terlihat untuk terasa berarti.

0 Response to " Jadi Santri Figuran di Film Pembunuhan Dukun Santet: Morning Establishing Shot dan Set design pesantrennya terasa megah dan detail."

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel