Juri Pensi MWI 2025 - tajukkisto

Juri Pensi MWI 2025



Juri Pensi MWI 2025





Pengalaman di kala Magang MBKM di mintai tolong panitia menjadi juri pensi. Jangankan juri, jadi panitia pensi saja dulu saya paling banter kebagian jaga kabel atau disuruh beli lakban. Tapi hidup memang hobi bercanda. Tahun 2025, saya justru duduk manis di kursi juri Pensi MWI, lengkap dengan lembar penilaian dan tatapan serius—padahal di dalam kepala masih muter lagu pensi zaman SMA.


Pensi MWI 2025 ini, kalau boleh jujur, bukan pensi kaleng-kaleng. Dari awal datang saja sudah terasa auranya: spanduk gede, soundcheck ribut dari siang, panitia lari-lari sambil pegang HT, dan peserta yang mondar-mandir dengan kostum kebanggaan. Ada yang pakai outfit band indie, ada yang full hitam ala metal, ada juga yang bajunya rapi banget sampai kelihatan kayak mau seminar, bukan manggung.


Sebagai juri, saya sempat bertanya ke diri sendiri: “Saya pantas nggak ya duduk di sini?” Tapi ya sudah, nasi sudah jadi juri. Tinggal menjalani dengan penuh tanggung jawab, walau tetap sambil menahan keinginan tepuk tangan berlebihan ke peserta favorit.


Tugas juri pensi itu ternyata nggak sesantai kelihatannya. Bukan cuma soal suka atau tidak suka. Ada aspek teknik, kekompakan, penguasaan panggung, hingga orisinalitas. Dan yang paling berat: menahan diri untuk tidak membandingkan mereka dengan band-band yang dulu sering kita tonton sambil berdiri di pinggir panggung, ngerokok sembunyi-sembunyi.


Peserta Pensi MWI 2025 ini beragam, dan itu menyenangkan. Ada yang masih kaku, jelas baru pertama kali naik panggung besar. Tangannya gemetar, suaranya kadang lari, tapi semangatnya jangan ditanya. Ada juga yang sudah matang, mainnya rapi, percaya diri, bahkan sempat melempar candaan ke penonton. Yang begini biasanya bikin juri saling pandang: “Ini anak sering manggung, kayaknya.”


Sebagai juri, saya belajar satu hal penting: pensi bukan sekadar soal menang atau kalah. Pensi adalah ruang belajar yang brutal tapi jujur. Di atas panggung, semua teori latihan diuji. Sound bisa tiba-tiba bermasalah, senar bisa putus, mic bisa mati, dan penonton bisa saja lebih sibuk merekam daripada menonton. Di situ mental diuji lebih keras daripada teknik.


Ada satu penampilan yang cukup membekas. Secara teknis, mungkin tidak paling rapi. Tapi mereka tampil jujur. Tidak sok jago, tidak berlebihan. Mereka menikmati panggung, dan penonton ikut menikmati. Sebagai juri, momen seperti ini bikin dilema: nilai angka harus objektif, tapi rasa kagum juga tidak bisa dibohongi.


Menjadi juri juga membuat saya sadar betapa kejamnya angka. Selisih satu atau dua poin bisa menentukan nasib sebuah grup. Padahal di balik itu ada latihan berbulan-bulan, ada izin orang tua, ada uang patungan buat sewa alat, bahkan mungkin ada drama internal yang berhasil ditahan demi tampil kompak di atas panggung.


Di sela-sela penilaian, saya memperhatikan panitia. Mereka ini pahlawan tanpa piagam. Dari yang mukanya lelah tapi tetap senyum, sampai yang setengah teriak karena rundown molor. Pensi berjalan bukan karena satu dua orang, tapi karena banyak orang yang rela capek demi satu hari penuh musik dan sorak-sorai.


Yang menarik dari Pensi MWI 2025 adalah atmosfernya. Tidak terlalu kaku, tapi juga tidak asal-asalan. Penonton cukup tertib, peserta saling menghargai, dan juri—setidaknya saya—berusaha adil walau selera musik berbeda-beda. Di sinilah seni kompromi diuji. Karena jadi juri bukan soal ego musik, tapi soal memberi ruang pada proses.


Selesai acara, ketika pemenang diumumkan, saya melihat ekspresi yang beragam. Ada yang meloncat kegirangan, ada yang tersenyum lega, ada yang matanya berkaca-kaca meski berusaha santai. Di titik itu, saya sadar: pensi adalah miniatur kehidupan. Tidak semua usaha langsung berbuah piala, tapi semua pengalaman pasti meninggalkan bekas.


Menjadi juri Pensi MWI 2025 mengajarkan saya untuk lebih menghargai keberanian. Naik panggung itu butuh nyali. Dinilai itu tidak nyaman. Tapi mereka tetap maju. Dan di usia-usia seperti itu, keberanian semacam ini adalah modal besar—entah nanti mereka lanjut di musik, atau memilih jalan hidup lain yang sama sekali berbeda.


Pulang dari acara, telinga masih berdengung, badan pegal, tapi hati hangat. Saya tidak membawa pulang piala, tapi membawa cerita. Tentang anak-anak muda yang berani tampil, tentang panitia yang bekerja tanpa banyak sorotan, dan tentang diri saya sendiri yang ternyata masih bisa kagum dengan hal-hal sederhana.


Kalau suatu hari nanti saya kembali duduk sebagai juri pensi, saya harap masih punya rasa yang sama: bukan merasa paling tahu, tapi merasa ikut belajar. Karena di panggung pensi, bukan cuma peserta yang diuji—juri juga. Dan Pensi MWI 2025 sudah mengingatkan saya akan satu hal penting: musik, sekacau apa pun, selalu punya cara untuk menyatukan orang-orang yang mau mendengarkan.



































































0 Response to "Juri Pensi MWI 2025"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel