Magang MBKM di Semester 11 Realitas Akademik yang harus di tuntaskan - tajukkisto

Magang MBKM di Semester 11 Realitas Akademik yang harus di tuntaskan

Magang MBKM di Semester 11 Realitas Akademik  yang harus di tuntaskan




Tidak semua perjalanan akademik berjalan lurus sesuai rencana. Ada yang lulus tepat waktu dengan toga masih hangat, ada pula yang harus berdamai dengan kalender akademik yang terasa seperti lingkaran setan. Saya termasuk golongan kedua. Ketika sebagian besar teman seangkatan sudah sibuk mengunggah foto wisuda, saya masih berkutat dengan satu kalimat yang jujur tapi agak memalukan untuk diucapkan keras-keras: saya semester 11 magang untuk nyari nilai.


Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan terkesan pragmatis. Namun di baliknya, ada cerita panjang tentang penundaan, kegagalan mengatur waktu, dan upaya untuk tetap bertahan di tengah tuntutan akademik yang tidak lagi romantis. Semester 11 bukan lagi masa eksplorasi diri atau pencarian jati diri ala mahasiswa baru. Semester 11 adalah fase bertahan hidup, fase “yang penting lulus”, dan fase di mana idealisme sering kali harus antre di belakang kewajiban administratif.


Keputusan mengikuti program magang bukan lagi soal pengembangan diri seperti yang tertulis di buku panduan MBKM. Bagi saya, magang adalah jalan keluar yang paling masuk akal untuk menyelamatkan nilai dan mempercepat kelulusan. Tidak ada narasi heroik tentang passion atau mimpi besar. Yang ada hanyalah kebutuhan akademik yang harus dipenuhi agar status mahasiswa tidak berubah menjadi legenda kampus.


Hari pertama magang dijalani dengan perasaan campur aduk. Ada rasa canggung, ada rasa minder, dan tentu saja ada rasa sadar diri. Di usia dan semester seperti ini, saya bukan lagi mahasiswa yang bisa dengan polos bertanya apa saja. Saya datang dengan beban: nilai harus ada, laporan harus selesai, dan dosen pembimbing harus diyakinkan bahwa saya benar-benar “aktif”. Di titik ini, saya belajar bahwa dunia akademik tidak selalu menilai niat, tetapi bukti.


Lingkungan magang mempertemukan saya dengan realitas yang berbeda dari kampus. Di sini, tidak ada SKS, tidak ada absen online, dan tidak ada toleransi untuk “telat karena tugas lain”. Semua berjalan berdasarkan tanggung jawab. Justru dari sinilah saya mendapat pelajaran penting: selama ini saya mungkin terlalu nyaman bersembunyi di balik status mahasiswa. Magang memaksa saya berdiri sebagai individu yang dinilai dari kerja, bukan alasan.


Ironisnya, meskipun tujuan awal saya semester 11 magang untuk nyari nilai, prosesnya justru membuka ruang refleksi yang tidak saya duga. Saya mulai mempertanyakan: mengapa saya bisa sampai di titik ini? Apakah sistem pendidikan yang terlalu longgar, atau saya yang terlalu sering menunda? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul bukan untuk disesali, tetapi untuk dipahami.


Dalam aktivitas magang sehari-hari, saya menjalani peran dengan kesadaran penuh bahwa ini bukan simulasi. Saya belajar datang tepat waktu, menyelesaikan tugas tanpa disuruh dua kali, dan berkomunikasi secara profesional. Hal-hal sederhana yang dulu sering saya anggap sepele, kini terasa krusial. Saya menyadari bahwa keterlambatan akademik tidak selalu berbanding lurus dengan ketidakmampuan, tetapi sering kali berakar pada kurangnya disiplin.


Interaksi dengan orang-orang di tempat magang juga memberi perspektif baru. Mereka tidak bertanya saya semester berapa, IPK berapa, atau lulus kapan. Yang mereka lihat hanyalah apakah saya bisa diandalkan atau tidak. Di sinilah ego sebagai “mahasiswa senior” perlahan runtuh. Saya belajar menjadi murid lagi—belajar mendengarkan, menerima kritik, dan memperbaiki kesalahan.


Namun saya tidak munafik. Ada hari-hari di mana motivasi saya benar-benar turun. Lelah fisik dan mental bercampur dengan tekanan laporan akhir dan revisi dosen. Di saat seperti itu, kalimat “saya semester 11 magang untuk nyari nilai” kembali terngiang, kali ini sebagai pengingat tujuan. Bukan tujuan yang ideal, tapi cukup kuat untuk membuat saya tetap berjalan.


Magang ini juga mengajarkan saya tentang tanggung jawab personal. Tidak ada lagi alasan menyalahkan sistem, dosen, atau keadaan. Semua bermuara pada satu hal: bagaimana saya menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Semester 11 menjadi cermin besar yang memantulkan kesalahan sekaligus potensi yang selama ini saya abaikan.


Menariknya, semakin lama menjalani magang, orientasi saya perlahan bergeser. Nilai tetap penting, tapi bukan lagi satu-satunya tujuan. Saya mulai menikmati proses belajar yang nyata, bukan berbasis teori semata. Saya mulai menyadari bahwa keterlambatan akademik tidak otomatis meniadakan masa depan, selama masih ada kemauan untuk bertanggung jawab.


Pada akhirnya, saya berdamai dengan status saya sebagai mahasiswa semester 11. Tidak lagi defensif, tidak lagi sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang punya garis waktunya masing-masing. Saya mungkin terlambat, tetapi bukan berarti berhenti. Magang ini menjadi bukti bahwa saya masih bergerak, meski tertatih.


Jika suatu hari nanti saya menoleh ke belakang, saya tidak ingin hanya mengingatnya sebagai masa “nyari nilai”. Saya ingin mengingat semester 11 sebagai fase dewasa—fase ketika saya berhenti mencari pembenaran dan mulai mencari penyelesaian. Karena pada akhirnya, kelulusan bukan hanya soal angka di transkrip, tetapi tentang keberanian menyelesaikan tanggung jawab.


Dan ya, dengan segala kejujuran, saya tidak menyangkal: saya semester 11 magang untuk nyari nilai. Tapi dari proses itu, saya justru menemukan sesuatu yang lebih penting—kesadaran bahwa belajar tidak selalu datang di waktu yang ideal, tapi selalu datang ketika kita mau membuka diri.

0 Response to "Magang MBKM di Semester 11 Realitas Akademik yang harus di tuntaskan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel