KKN Tewas: Satu Minggu Sakit DB - tajukkisto

KKN Tewas: Satu Minggu Sakit DB

 KKN Tewas: Satu Minggu Sakit DB



Kuliah Kerja Nyata selalu diceritakan sebagai fase pengabdian paling manusiawi dalam kehidupan mahasiswa. Tentang turun ke desa, menyatu dengan masyarakat, menanam kenangan, dan pulang membawa cerita heroik. Tidak ada brosur kampus yang menuliskan kemungkinan lain: tumbang di tengah pengabdian, terkapar di kasur sempit, dan dihantam penyakit yang datang tanpa permisi. Saya mengalaminya. KKN saya tidak penuh romantika. KKN saya hampir tewas—satu minggu sakit demam berdarah (DB).


Hari-hari awal KKN berjalan seperti biasanya. Adaptasi dengan lingkungan desa, menyusun program kerja, dan mencoba akrab dengan warga. Tubuh masih terasa kuat, pikiran masih penuh optimisme. Sampai suatu malam, badan mulai menggigil. Awalnya saya anggap kelelahan biasa. KKN memang melelahkan, apalagi dengan cuaca yang tidak menentu dan aktivitas luar ruangan yang padat. Saya memilih tidur lebih cepat, berharap besok bangun dalam keadaan normal.


Ternyata tidak.


Demam datang dengan brutal. Kepala terasa berat, tulang seperti diremas dari dalam, dan tubuh kehilangan tenaga bahkan untuk sekadar duduk. Hari pertama saya masih memaksa ikut kegiatan, mencoba menyangkal bahwa ada yang salah. Di KKN, sakit sering dianggap kelemahan. Ada rasa tidak enak pada kelompok, ada rasa takut dianggap tidak komitmen. Saya memilih menunda pemeriksaan, keputusan yang belakangan terasa sangat bodoh.


Memasuki hari ketiga, kondisi semakin memburuk. Demam tinggi tidak turun, nafsu makan hilang, dan tubuh mulai lemas total. Saya hanya bisa terbaring, mendengar suara teman-teman KKN beraktivitas di luar. Di titik itu, KKN yang katanya mendewasakan justru memperlihatkan sisi paling rapuh dari diri saya. Saya bukan lagi mahasiswa idealis, saya hanyalah tubuh sakit yang bergantung pada kepedulian orang lain.


Akhirnya saya dibawa ke fasilitas kesehatan. Setelah pemeriksaan, vonis itu keluar dengan datar tapi menakutkan: demam berdarah. Kalimatnya pendek, efeknya panjang. Saya langsung teringat berita-berita kematian akibat DB yang sering lewat begitu saja di linimasa. Tiba-tiba, kematian terasa sangat dekat dan sangat mungkin.


Satu minggu sakit DB di tengah KKN terasa seperti terlempar keluar dari alur hidup. Hari-hari saya habiskan dengan infus, obat, dan rasa nyeri yang tidak konsisten. Kadang demam turun, lalu naik lagi. Kadang merasa sedikit membaik, lalu drop tanpa aba-aba. Tubuh seperti bukan milik sendiri. Saya tidak bisa membantu kelompok, tidak bisa menjalankan program, bahkan tidak bisa mengurus diri sendiri dengan layak.


Di saat seperti itu, saya belajar makna ketergantungan. Teman-teman KKN yang awalnya hanya rekan program kerja berubah menjadi penjaga hidup. Ada yang mengantar ke puskesmas, ada yang memastikan saya makan, ada yang sekadar duduk menemani ketika malam terasa terlalu panjang. Dari situ saya sadar: pengabdian tidak selalu soal memberi, kadang soal menerima dengan rendah hati.


Namun ada satu hal yang paling menghantam mental saya: rasa bersalah. KKN seharusnya tentang kontribusi, tapi yang saya lakukan justru menjadi beban. Saya merasa gagal. Gagal menjaga kesehatan, gagal hadir, gagal menjadi mahasiswa yang “berguna”. Pikiran-pikiran itu lebih menyakitkan dari demam itu sendiri.


Di tengah sakit, saya juga mulai berpikir tentang betapa rapuhnya hidup mahasiswa yang sering merasa kebal. Kita sering merasa muda berarti kuat, sibuk berarti produktif, lelah berarti hebat. KKN mematahkan semua ilusi itu. Nyamuk kecil, genangan air, dan sistem imun yang drop cukup untuk menjatuhkan seseorang yang merasa sedang mengabdi untuk masyarakat.


Satu minggu sakit DB mengajarkan saya pelajaran yang tidak ada di modul KKN. Tentang pentingnya menjaga lingkungan, bukan sebagai slogan, tapi sebagai kebutuhan hidup. Tentang kesehatan yang sering kita korbankan demi target dan penilaian. Dan tentang kematian yang tidak memilih waktu, tidak peduli status mahasiswa atau agenda pengabdian.


Ketika kondisi mulai membaik, saya kembali ke posko dengan tubuh yang belum sepenuhnya pulih. Saya tidak lagi memaksakan diri. Saya belajar membatasi tenaga, belajar mengatakan tidak, dan belajar mendengarkan tubuh sendiri. Kontribusi saya mungkin tidak maksimal secara fisik, tapi saya hadir dengan kesadaran baru: hidup lebih penting dari laporan.


KKN saya memang tidak ideal. Tidak penuh dokumentasi kegiatan, tidak penuh cerita sukses program kerja. Tapi KKN ini meninggalkan bekas yang dalam. Ia mengajarkan bahwa pengabdian sejati dimulai dari menjaga diri sendiri agar tetap hidup dan sehat. Karena bagaimana mungkin kita membantu masyarakat jika kita mengabaikan keselamatan sendiri?


Kini ketika mendengar kata KKN, saya tidak lagi membayangkan spanduk, pentas seni, atau foto kelompok. Yang teringat justru satu minggu sakit DB, infus yang menetes pelan, dan kesadaran bahwa hidup bisa berhenti kapan saja. Bukan untuk ditakuti, tapi untuk dihargai.


KKN tewas—bukan karena mati secara harfiah, tapi karena ego, idealisme kosong, dan rasa kebal yang akhirnya runtuh. Dari sakit itu, saya bangkit bukan sebagai mahasiswa yang lebih hebat, tapi sebagai manusia yang lebih sadar: bahwa pengabdian paling dasar adalah bertahan hidup, lalu peduli pada sekitar.

0 Response to " KKN Tewas: Satu Minggu Sakit DB"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel