Ketika Kebebasan ekspresi menjadi Protes imajinasi dalam pentas di "Larang bernyanyi di kamar mandi"
Wednesday, December 31, 2025
Add Comment
Ketika Kebebasan ekspresi menjadi Protes imajinasi dalam pentas di "Larang bernyanyi di kamar mandi"
Protes simbolisme perempuan lewat nyanyian justru berujung pada terinjak hak atas privasi. Ruang yang seharusnya menjadi paling titik nyaman dan aman kemudian menelan rasa bersalah. Perasaan atas kemunculan imaji dari apa yg jauh tak semestinya adalah salah siapa sebenarnya? Yang meracik obat atau yang menghirup aroma obat?. Perjuaangan atas dasar hak wanita di balik dinding urban.
Memilih tempat tinggal sebagaimana mestinya menimbang kebutuhan adalah keputusan setiap individu. Memanfaatkan ruang serta waktu sebagai bentuk mengekspresikan diri juga demikian.
Jika sebuah nyanyian penghuni kost baru tapi membuat umpan gaduh lingkungan dalam hal ini smpai memancing keributan ialah hal yang melewati batas normal semestinya.
Yang menjadikan protes adalah suara ketika penghuni yg baru ini mandi. Dan bahkan sampai pendengar hafal waktu tiap harinya. Tidak salah dengan jam mandi dan memiliki pendengar titen tiap harinya. Tapi kalo bagi pendengar harian mereka timbul daya sensasi bayangan, fantasi, dan obsesi atas tubuh wanita salah siapa? Dan lebihnya wanita yang mereka imajikan yang bernyanyi tersebut.
Imajinasi timbul dari apa yg di lihat di dengar kemudian bayangkan untuk mencoba merasakan. Bagi lelaki jika sedikit sedikit melihat tubuh wanita yang menurut kesepakatan mereka di anggap memenuhi standar contoh melihat di lingkungan komplek dan mengakui sebagai parameter maka jika semuanya maka mereka lelaki perlu di ruqyah agar bisa netral bersih diri dan menjaga pandangan. Sebaliknya bagi perempuan jika sudah berlaku senormalnya sewajarnya tapi membuat daya hasrat lelaki naik berarti ada ketergantungan diri yg perlu di benahi.
Pernah ngga lagi mandi kepikiran bakalan ada yang denger suara kita, kamar mandi ruang paling privasi untuk segala aktivitasnya justru berubah menjadi intropeksi mendalam bahkan berujung kepergian yg tak salah dari wilayah tersebut.
Bukan cuma dari protes tetangga, warga di lingkungan, tapi seorang yang di imajinasikan pun yang mendengar nyanyiannya timbul ia merasa apakah ia seharusnya memprotes imajinasinya sendiri juga.
Mempermasalahkan suara nyanyian penghuni kontrakan ketika ia sedang aktivitas mandi. Karakter utama dalam cerita bernyanyi sebut saja lagunya"Kaleng merah jambu" suaranya terdengar hingga luar dan membuat daya khayal di kerumunan luar.
Masalahhya bukan pada tetangga kontrakan terdekat tapi penghuni pos ronda yang seharusnya berkumpul di malam hari, menjadi berbalik waktu pagi hari. Alasan yang di bangun untuk menuruti kebiasan mendengar nyanyian. Kebiasaan yag semakin lama membuat istri pagi hari bermain petak umpet dengan suami yg kabur colong2an ke pos ronda.
Keos dan turun peringatan dari pak RT yang sewajarnya merukunkan warganya, alih alih sadar penerimaan tokoh utama justru menjadi kaget mendengar berita yang di sampaikan. Plot naik Pak RT dialog dengan batinya sejalan peristiwa terjadi menurutnya musuh terbesar bukan tetangga tapi imajinasi.
Set panggung di hadirkan dengan kontrakan utuh super besar dengan penggambaran gerbang di kiri panggung, di center tengah sebuah pos ronda mewah nampak berwarna merah marun dan di penyeimbangnya sebuah taman yg di gambarkan milik komplek kampung tersebut, di wakilkan satu pohon besar.
Protes imajinasi kepada diri sendiri, dinamika yang di bangun ketika para ibu ibu menyalahkan suaminya yg tak bisa menjaganya justru di sana letak instropeksi sebagai istri, akankah istri benar menjadi istri dalam urusan memenuhi urusan ranjangnya. Di lain sisi para suami juga laki laki yg belum menikah teegambar sepakat dengan mendengar nyanyian menjadi imajinasi.
Seolah olah dari suara nyanyian tersebut membawa kita untuk refleksi. Terutama kepada diri sendiri, kemudian sebisa mungkin mengingatkan orang lain. Seolah juga ahir ahir ini atau bahkan hari ini pun kita berada di antara ruang yang tak pasti. Yang menurut kita aman kadang menjadi kejadian yang sangat tak di harapkan. Sebaliknya yg di rencanakan untuk di hindari karena faktor kerugian yg lebih besar malah menjadi kebiasaan mengasikan. Di ruang yang menurut kita paling privasipun bisa menjadi celah kejahatan.
Ketika hanya mengkspresikan diri juga tak bisa di salahkan jika ia berdiri sendirian tanpa menghasilkan masalah mayor. Disini yang menjadi peristiwa adalah hasil timbul efek dari ekspresi diri malah di salahgunakan oleh pihak lain. Di hal ini kreator tak bisa mutlak salah penikmat juga karena mereka menikmati apa yg tersaji secara panca indera.
Protes secara keras keras juga belum tentu baik bagi kedua pihak. Keras bukan hanya volume, tindakan atau perbuatan. Tapi pendalaman atas kejadian. Mencoba memahami yang terjadi untuk sebuah keputusan kecil bagi tiap individu.
Akankah protes ekspresi di ranah privasi salah? Rumit, dari lensa feminis, protes itu salah ia menyerang korban, bukan pelaku.
Protes pada ahirnya membalik fakta: ekspresi tak melanggar hukum atau norma ia hanya bernyanyi di ruang privasi menurutnya.
Kelirunya terletak pada mereka saat mengubah ekspresi sebagai imajinasi patriarkal.
Budaya yang membenarkan fantasi mereka lalu salahkan ekspresi. Protes semacam itu justru memperkuat sistem opresif.
Lalu, bagaimana jika setelah diprotes, imajinasi itu tetap sama, bahkan semakin membabi buta ganas dan semakin liar? bukti bahwa masalah bukan pada nyanyian, tapi pola pikir patriarkal.
Jika keputusan atas lenyapnya nyanyian adalah bentuk kekesalan larangan tapi mereka semakin menjadi dan fantasi membengkak maka protes hanyalah formalitas kosong. Maka harus eskalasi perlawanan.
Akhirnya, nyanyian sebagai bentuk ekspresi bukan gaduh, tapi panggilan revolusi. Imajinasi tak terkendali adalah kejahatan, dan perempuan berhak bela haknya tanpa rasa bersalah. Ruang privat kembali miliknya, atau perlawanan berlanjut hingga patriarki retak.
Protes simbolisme perempuan lewat nyanyian justru berujung pada terinjak hak atas privasi. Ruang yang seharusnya menjadi paling titik nyaman dan aman kemudian menelan rasa bersalah. Perasaan atas kemunculan imaji dari apa yg jauh tak semestinya adalah salah siapa sebenarnya? Yang meracik obat atau yang menghirup aroma obat?. Perjuaangan atas dasar hak wanita di balik dinding urban.
Memilih tempat tinggal sebagaimana mestinya menimbang kebutuhan adalah keputusan setiap individu. Memanfaatkan ruang serta waktu sebagai bentuk mengekspresikan diri juga demikian.
Jika sebuah nyanyian penghuni kost baru tapi membuat umpan gaduh lingkungan dalam hal ini smpai memancing keributan ialah hal yang melewati batas normal semestinya.
Yang menjadikan protes adalah suara ketika penghuni yg baru ini mandi. Dan bahkan sampai pendengar hafal waktu tiap harinya. Tidak salah dengan jam mandi dan memiliki pendengar titen tiap harinya. Tapi kalo bagi pendengar harian mereka timbul daya sensasi bayangan, fantasi, dan obsesi atas tubuh wanita salah siapa? Dan lebihnya wanita yang mereka imajikan yang bernyanyi tersebut.
Imajinasi timbul dari apa yg di lihat di dengar kemudian bayangkan untuk mencoba merasakan. Bagi lelaki jika sedikit sedikit melihat tubuh wanita yang menurut kesepakatan mereka di anggap memenuhi standar contoh melihat di lingkungan komplek dan mengakui sebagai parameter maka jika semuanya maka mereka lelaki perlu di ruqyah agar bisa netral bersih diri dan menjaga pandangan. Sebaliknya bagi perempuan jika sudah berlaku senormalnya sewajarnya tapi membuat daya hasrat lelaki naik berarti ada ketergantungan diri yg perlu di benahi.
Pernah ngga lagi mandi kepikiran bakalan ada yang denger suara kita, kamar mandi ruang paling privasi untuk segala aktivitasnya justru berubah menjadi intropeksi mendalam bahkan berujung kepergian yg tak salah dari wilayah tersebut.
Bukan cuma dari protes tetangga, warga di lingkungan, tapi seorang yang di imajinasikan pun yang mendengar nyanyiannya timbul ia merasa apakah ia seharusnya memprotes imajinasinya sendiri juga.
Mempermasalahkan suara nyanyian penghuni kontrakan ketika ia sedang aktivitas mandi. Karakter utama dalam cerita bernyanyi sebut saja lagunya"Kaleng merah jambu" suaranya terdengar hingga luar dan membuat daya khayal di kerumunan luar.
Masalahhya bukan pada tetangga kontrakan terdekat tapi penghuni pos ronda yang seharusnya berkumpul di malam hari, menjadi berbalik waktu pagi hari. Alasan yang di bangun untuk menuruti kebiasan mendengar nyanyian. Kebiasaan yag semakin lama membuat istri pagi hari bermain petak umpet dengan suami yg kabur colong2an ke pos ronda.
Keos dan turun peringatan dari pak RT yang sewajarnya merukunkan warganya, alih alih sadar penerimaan tokoh utama justru menjadi kaget mendengar berita yang di sampaikan. Plot naik Pak RT dialog dengan batinya sejalan peristiwa terjadi menurutnya musuh terbesar bukan tetangga tapi imajinasi.
Set panggung di hadirkan dengan kontrakan utuh super besar dengan penggambaran gerbang di kiri panggung, di center tengah sebuah pos ronda mewah nampak berwarna merah marun dan di penyeimbangnya sebuah taman yg di gambarkan milik komplek kampung tersebut, di wakilkan satu pohon besar.
Protes imajinasi kepada diri sendiri, dinamika yang di bangun ketika para ibu ibu menyalahkan suaminya yg tak bisa menjaganya justru di sana letak instropeksi sebagai istri, akankah istri benar menjadi istri dalam urusan memenuhi urusan ranjangnya. Di lain sisi para suami juga laki laki yg belum menikah teegambar sepakat dengan mendengar nyanyian menjadi imajinasi.
Seolah olah dari suara nyanyian tersebut membawa kita untuk refleksi. Terutama kepada diri sendiri, kemudian sebisa mungkin mengingatkan orang lain. Seolah juga ahir ahir ini atau bahkan hari ini pun kita berada di antara ruang yang tak pasti. Yang menurut kita aman kadang menjadi kejadian yang sangat tak di harapkan. Sebaliknya yg di rencanakan untuk di hindari karena faktor kerugian yg lebih besar malah menjadi kebiasaan mengasikan. Di ruang yang menurut kita paling privasipun bisa menjadi celah kejahatan.
Ketika hanya mengkspresikan diri juga tak bisa di salahkan jika ia berdiri sendirian tanpa menghasilkan masalah mayor. Disini yang menjadi peristiwa adalah hasil timbul efek dari ekspresi diri malah di salahgunakan oleh pihak lain. Di hal ini kreator tak bisa mutlak salah penikmat juga karena mereka menikmati apa yg tersaji secara panca indera.
Protes secara keras keras juga belum tentu baik bagi kedua pihak. Keras bukan hanya volume, tindakan atau perbuatan. Tapi pendalaman atas kejadian. Mencoba memahami yang terjadi untuk sebuah keputusan kecil bagi tiap individu.
Akankah protes ekspresi di ranah privasi salah? Rumit, dari lensa feminis, protes itu salah ia menyerang korban, bukan pelaku.
Protes pada ahirnya membalik fakta: ekspresi tak melanggar hukum atau norma ia hanya bernyanyi di ruang privasi menurutnya.
Kelirunya terletak pada mereka saat mengubah ekspresi sebagai imajinasi patriarkal.
Budaya yang membenarkan fantasi mereka lalu salahkan ekspresi. Protes semacam itu justru memperkuat sistem opresif.
Lalu, bagaimana jika setelah diprotes, imajinasi itu tetap sama, bahkan semakin membabi buta ganas dan semakin liar? bukti bahwa masalah bukan pada nyanyian, tapi pola pikir patriarkal.
Jika keputusan atas lenyapnya nyanyian adalah bentuk kekesalan larangan tapi mereka semakin menjadi dan fantasi membengkak maka protes hanyalah formalitas kosong. Maka harus eskalasi perlawanan.
Akhirnya, nyanyian sebagai bentuk ekspresi bukan gaduh, tapi panggilan revolusi. Imajinasi tak terkendali adalah kejahatan, dan perempuan berhak bela haknya tanpa rasa bersalah. Ruang privat kembali miliknya, atau perlawanan berlanjut hingga patriarki retak.

0 Response to "Ketika Kebebasan ekspresi menjadi Protes imajinasi dalam pentas di "Larang bernyanyi di kamar mandi""
Post a Comment