Satu Jam di Depan Etalase Domino’s: Antara SOP, Pizza, dan Ojol yang Kehilangan Kesabaran
Satu Jam di Depan Etalase Domino’s: Antara SOP, Pizza, dan Ojol yang Kehilangan Kesabaran
Saya tidak pernah bercita-cita menghabiskan satu jam hidup saya berdiri di depan etalase Domino’s Pizza. Tapi sore itu, dengan jaket ojol masih menempel dan helm belum sempat dilepas, saya berdiri di sana—menunggu. Bukan menunggu pizza matang, tapi menunggu SOP yang berjalan terlalu khusyuk pada dirinya sendiri.
Satu jam. Enam puluh menit. Waktu yang cukup untuk satu episode sinetron konflik keluarga, dua kali hujan deras datang lalu pergi, atau tiga kali pembeli bertanya, “Mas, pesanannya lama ya?”
Dan jawabannya selalu sama: “Masih proses, Kak.”
SOP yang Terlalu Sempurna untuk Dunia Nyata
Saya paham, Domino’s adalah brand besar. Mereka punya standar. Ada alur: pesan masuk, adonan direntangkan, saus dioles, topping ditata simetris seperti hidup yang ideal, oven menyala, pizza keluar, dipotong, dicek, dikemas, baru diserahkan. Semua rapi. Semua sesuai prosedur.
Masalahnya, dunia ojol tidak hidup di atas SOP, tapi di atas aplikasi, rating, dan sisa bensin.
SOP ini mungkin efektif untuk menjaga kualitas pizza, tapi tidak ramah pada realitas kurir yang sistem kerjanya berbasis waktu. Satu jam menunggu artinya satu jam tidak jalan order lain. Satu jam itu bisa berarti kehilangan dua atau tiga pengantaran. Dan pada akhirnya, kehilangan penghasilan.
Ojol Itu Bukan Kursi Tunggu
Di dalam outlet, kursi penuh. Sebagian diisi pelanggan yang memang niat makan di tempat. Sebagian diisi ojol yang pura-pura santai sambil scroll HP, padahal batinnya sedang menghitung: “Ini nunggu masih untung nggak, ya?”
Ojol bukan pelanggan biasa. Kami bukan datang untuk nongkrong, bukan ingin diskon buy one get one. Kami datang karena sistem menyuruh kami datang. Kalau dibatalkan, penalti. Kalau ditunggu, waktu habis.
Ironisnya, dalam SOP yang super detail itu, posisi ojol sering kali seperti catatan kaki. Ada, tapi tidak dianggap mendesak.
Pesanan Online yang Terasa Offline
Yang membuat menunggu satu jam terasa absurd adalah ini: pesanan sudah dibayar. Uang sudah berpindah tangan. Sistem sudah mencatat. Tapi prosesnya masih terasa seperti era sebelum internet—pelan, berlapis, dan penuh basa-basi prosedural.
Di layar aplikasi tertulis “sedang disiapkan”, tapi di depan mata, staf masih debat kecil soal topping mana yang kurang. Bukan salah mereka sepenuhnya. Mereka bekerja sesuai arahan. Yang salah mungkin SOP yang tidak disesuaikan dengan lonjakan order online.
Ketika promo jalan, aplikasi ramai, tapi dapur tetap dengan ritme yang sama. Akhirnya yang dikorbankan siapa? Bukan brand, bukan pelanggan—tapi kurir yang waktunya dianggap elastis.
Kritik Kecil untuk Sistem yang Terlalu Percaya Diri
Domino’s sering mengusung slogan cepat, praktis, dan modern. Tapi realitas di lapangan kadang terasa seperti birokrasi kecil dengan aroma keju. Semua harus lewat jalur, tidak boleh loncat, meski antrean sudah seperti daftar tunggu rumah sakit.
Tidak ada jalur khusus ojol. Tidak ada estimasi waktu yang jujur. Tidak ada komunikasi yang tegas: “Ini bakal lama, mau lanjut atau batal?”
Ojol dibiarkan menggantung dalam ketidakpastian. Padahal satu notifikasi kecil saja bisa menyelamatkan banyak waktu dan emosi.
SOP Itu Penting, Tapi Fleksibilitas Lebih Penting
Tulisan ini bukan ajakan untuk membakar SOP. SOP itu perlu. Tanpa SOP, pizza bisa berantakan, rasa tidak konsisten, dan brand rusak. Tapi SOP yang terlalu kaku di tengah sistem digital yang serba cepat justru jadi kontraproduktif.
Mungkin sudah waktunya SOP Domino’s punya satu tambahan kecil: bab khusus untuk ojol. Jalur cepat, prioritas tertentu, atau setidaknya estimasi waktu yang realistis.
Karena ojol bukan mesin tunggu. Kami manusia dengan waktu terbatas, badan capek, dan target harian yang tidak bisa dinegosiasikan dengan “sebentar lagi”.
Menunggu Pizza, Kehilangan Martabat Kecil
Menunggu satu jam itu bukan cuma soal waktu, tapi soal perasaan. Berdiri di pojokan, menatap karyawan lalu-lalang, sambil menahan keinginan untuk bertanya keempat kalinya, “Mas, lama lagi?”
Ada rasa canggung. Ada rasa tidak enak. Seolah kita ini tamu tak diundang, padahal kita membawa pesanan yang sudah lunas.
Dan di situ, pelan-pelan, martabat pekerja informal diuji. Bukan oleh orang jahat, tapi oleh sistem yang tidak dirancang untuk mereka.
Penutup: Pizza Tetap Enak, Tapi Sistem Perlu Dipercepat
Saya tidak benci Domino’s. Pizzanya tetap enak. Kejunya lumer. Rotinya empuk. Masalahnya bukan di rasa, tapi di alur kerja yang tidak sinkron dengan zaman.
Di era di mana segalanya serba cepat, SOP yang terlalu lambat justru terasa ketinggalan. Bukan soal malas, tapi soal adaptasi.
Ojol bukan minta dilayani istimewa. Kami cuma ingin dihitung sebagai bagian penting dari rantai layanan, bukan sekadar efek samping dari promo online.
Karena pada akhirnya, pizza mungkin bisa menunggu matang. Tapi kesabaran manusia ada batasnya.
Dan satu jam di depan etalase pizza, percaya atau tidak, bisa terasa lebih lama dari perjalanan hidup itu sendiri.
0 Response to "Satu Jam di Depan Etalase Domino’s: Antara SOP, Pizza, dan Ojol yang Kehilangan Kesabaran"
Post a Comment