Membaca 48 Hukum Kekuasaan: Antara Ingin Bertahan dan Tak Mau Jadi Bajingan - tajukkisto

Membaca 48 Hukum Kekuasaan: Antara Ingin Bertahan dan Tak Mau Jadi Bajingan

 Membaca 48 Hukum Kekuasaan: Antara Ingin Bertahan dan Tak Mau Jadi Bajingan




Ada dua tipe orang yang membaca The 48 Laws of Power karya Robert Greene. Pertama, mereka yang membaca sambil mengangguk-angguk seperti baru menemukan kitab suci dunia kerja. Kedua, mereka yang membaca sambil mengernyit, lalu bertanya dalam hati: “Kalau semua orang pakai ini, dunia jadi apa?”

Saya termasuk tipe ketiga: membaca dengan rasa bersalah kecil, tapi penasaran besar.


Buku ini saya baca bukan karena ingin berkuasa, apalagi memanipulasi orang. Jujur saja, saya terlalu malas untuk jadi licik penuh perhitungan. Saya membaca karena ingin tahu: kenapa banyak orang pintar, baik, dan rajin justru kalah posisi dari mereka yang lebih lihai membaca situasi?


Jawaban Robert Greene sederhana, dingin, dan agak menyebalkan: karena dunia tidak diatur oleh niat baik, tapi oleh kekuasaan.


Buku yang Tidak Punya Rasa Bersalah


Greene tidak menulis buku motivasi. Ia juga tidak peduli pada perasaan pembaca yang masih percaya pada meritokrasi murni. Sejak halaman awal, buku ini seperti berkata, “Kalau kamu ingin tetap merasa suci, silakan tutup buku ini.”


Di dalamnya ada 48 hukum yang intinya satu: jangan naif. Dunia sosial bukan ruang kelas etika. Ia lebih mirip panggung teater. Orang memainkan peran, menyembunyikan niat, dan merawat citra. Yang bertahan bukan yang paling jujur, tapi yang paling paham permainan.


Masalahnya, buku ini sering disalahpahami sebagai panduan jadi jahat. Padahal yang ditawarkan Greene bukan moral alternatif, melainkan peta medan. Seperti Google Maps, ia tidak memaksa kita belok ke gang gelap—tapi memberi tahu bahwa gang itu ada.


Hukum-Hukum yang Terasa Terlalu Familiar


Beberapa hukum di buku ini terasa tidak asing, terutama bagi siapa pun yang pernah hidup di kampus, organisasi, kantor, atau grup WhatsApp keluarga besar.


“Never Outshine the Master.”

Jangan mengungguli atasan. Ini bukan soal tidak boleh pintar, tapi soal ego manusia yang rapuh. Kita hidup di budaya yang katanya menghargai prestasi, tapi sering alergi pada orang yang terlalu bersinar. Terlalu kompeten bisa dianggap ancaman, bukan aset.


“Guard Your Reputation with Your Life.”

Reputasi lebih mahal dari keahlian. Di era media sosial, satu kesalahan kecil bisa jadi identitas seumur hidup. Orang tidak lagi dinilai dari proses, tapi dari potongan narasi yang viral.


“Learn to Keep People Dependent on You.”

Ini hukum yang paling sering disalahpahami. Greene tidak sedang menyuruh kita memperbudak orang. Ia hanya menyatakan fakta sosial: orang yang paling dibutuhkan jarang disingkirkan. Bukan karena paling baik, tapi karena paling relevan.


Saat membaca ini, saya tidak merasa tercerahkan. Saya merasa tertampar. Karena hukum-hukum ini bukan teori. Ia hidup dan bernafas di sekitar kita.


Antara Strategi dan Sinisme


Di sinilah dilema buku ini muncul. Kalau dibaca mentah-mentah, The 48 Laws of Power bisa melahirkan manusia-manusia strategis yang kehilangan empati. Segala relasi jadi transaksi. Segala kebaikan punya motif. Dunia jadi papan catur, dan manusia cuma bidak.


Tapi menyalahkan buku ini sepenuhnya juga tidak adil. Buku ini seperti pisau dapur. Bisa dipakai masak, bisa dipakai melukai. Yang menentukan bukan pisaunya, tapi niat pemegangnya.


Greene tidak pernah menyuruh kita jadi bajingan. Ia hanya membongkar kenyataan pahit: bahwa banyak struktur sosial memang bekerja dengan logika kekuasaan, bukan logika keadilan.


Pengalaman Pribadi: Jadi Lebih Waspada, Bukan Lebih Licik


Setelah membaca buku ini, saya tidak berubah jadi manipulatif. Saya tetap canggung, tetap sering salah ucap, tetap kalah debat dari orang yang lebih vokal. Tapi ada satu hal yang berubah: kesadaran.


Saya jadi lebih peka bahwa:


tidak semua pujian itu dukungan,


tidak semua kritik itu tulus,


tidak semua konflik itu soal prinsip—kadang cuma soal posisi.


Buku ini tidak mengajari saya cara menguasai orang lain. Ia mengajari saya cara tidak gampang dikuasai. Dan di dunia yang sering memanfaatkan kepolosan sebagai celah, itu bukan hal buruk.


Kritik Sosial yang Diam-Diam Pedas


Yang menarik, The 48 Laws of Power justru membuka borok masyarakat modern yang sering berpura-pura bermoral. Kita gemar mengutuk manipulasi, tapi memuja hasil. Kita mencela intrik, tapi menikmati keuntungannya.


Buku ini seperti berkata: “Kamu boleh tidak setuju dengan hukum-hukum ini, tapi jangan pura-pura mereka tidak bekerja.”


Di Indonesia, kekuasaan sering dibungkus kesantunan. Yang licik jarang terlihat galak. Yang manipulatif sering tampil religius. Greene tidak menyerang itu secara frontal, tapi membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri betapa rapuhnya moral publik ketika bertemu ambisi pribadi.


Buku Ini Bukan untuk Semua Orang


Kalau kamu sedang mencari buku yang menguatkan iman pada keadilan semesta, buku ini bukan untukmu. Kalau kamu ingin percaya bahwa semua yang baik pasti menang, buku ini akan terasa menyebalkan.


Tapi kalau kamu ingin:


memahami dinamika kekuasaan,


membaca manusia dengan lebih realistis,


bertahan tanpa kehilangan nalar,


buku ini layak dibaca—dengan jarak kritis.


Penutup: Tetap Manusia di Tengah Permainan


Pada akhirnya, The 48 Laws of Power bukan ajakan untuk jadi licik, tapi peringatan agar tidak naif. Ia tidak mengajarkan kejahatan, tapi membongkar ilusi. Bahwa dunia tidak selalu adil, dan kebaikan tanpa kesadaran bisa jadi bumerang.


Yang penting bukan mengikuti semua hukumnya, tapi memilih mana yang perlu dipahami dan mana yang perlu dilawan. Karena menjadi manusia bukan soal menang terus, tapi soal tahu kapan harus bertahan tanpa kehilangan diri sendiri.


Jika harus diringkas satu kalimat, maka buku ini berkata:


Kamu tidak harus berkuasa. Tapi kalau kamu hidup di dunia kekuasaan, sebaiknya tahu aturannya.


Dan mungkin, di zaman yang penuh kepura-puraan moral, kejujuran semacam itu justru terasa paling manusiawi.

0 Response to " Membaca 48 Hukum Kekuasaan: Antara Ingin Bertahan dan Tak Mau Jadi Bajingan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel