Membaca Hasrat dan Kepura-puraan Sosial dalam Buku Sebab Kita Semua Gila Seks Karya Ester Pandiangan - tajukkisto

Membaca Hasrat dan Kepura-puraan Sosial dalam Buku Sebab Kita Semua Gila Seks Karya Ester Pandiangan

 Buku Sebab Kita Semua Gila Seks karya Ester Pandangian hadir sebagai teks yang berani, provokatif, sekaligus reflektif dalam membicarakan tema seksualitas di tengah masyarakat yang gemar menutupinya dengan moralitas semu. Judulnya saja sudah menjadi pernyataan sikap: seks bukan sesuatu yang asing, menyimpang, atau hanya milik kelompok tertentu, melainkan bagian dari pengalaman manusia yang paling dasar. Ester tidak berangkat dari sensasi kosong, melainkan dari kegelisahan intelektual dan sosial tentang bagaimana seks dibicarakan, disembunyikan, dan sering kali dimanipulasi.

Membaca Hasrat dan Kepura-puraan Sosial dalam Buku Sebab Kita Semua Gila Seks Karya Ester Pandiangan



Sejak awal, buku ini tidak mencoba menjadi buku panduan seks atau teks ilmiah yang kaku. Ia lebih menyerupai kumpulan esai reflektif-kritis yang memadukan pengalaman personal, pengamatan sosial, serta kritik budaya. Ester menempatkan seks sebagai medan tarik-menarik antara hasrat biologis, norma sosial, dan kekuasaan. Di titik ini, buku tersebut menjadi penting karena tidak hanya membicarakan “seks” sebagai aktivitas, tetapi sebagai bahasa—bahasa yang dipakai untuk mengontrol, menghakimi, dan sekaligus memuaskan.


Salah satu gagasan utama yang diangkat Ester adalah hipokrisi sosial. Masyarakat, menurutnya, gemar berbicara moral sambil diam-diam mengonsumsi seks dalam berbagai bentuk: iklan, hiburan, gosip, bahkan kekerasan simbolik. Seks dikutuk di ruang publik, tetapi dieksploitasi secara masif dalam ruang privat. Dari sinilah muncul tesis implisit buku ini: kita bukan kekurangan moral, tetapi kelebihan kepura-puraan. Kita tidak anti-seks, kita hanya anti-kejujuran.


Ester dengan tajam menunjukkan bagaimana seks sering dijadikan alat penghakiman, terutama terhadap tubuh perempuan. Tubuh perempuan dipantau, dinilai, dan diatur dengan standar moral yang ketat, sementara hasrat laki-laki sering dimaklumi sebagai sesuatu yang “alamiah”. Buku ini mengkritik standar ganda tersebut tanpa jatuh pada nada menggurui. Kritiknya lahir dari pengalaman dan observasi, membuat argumennya terasa dekat dan relevan.


Yang menarik, Ester tidak memosisikan seks sebagai masalah utama. Masalahnya justru terletak pada cara kita membicarakan seks. Ketika seks hanya dibingkai sebagai dosa atau aib, manusia kehilangan ruang aman untuk memahami tubuh dan hasratnya sendiri. Akibatnya, banyak orang tumbuh dengan rasa bersalah, takut, atau bahkan kebencian terhadap tubuhnya. Dalam konteks ini, buku Sebab Kita Semua Gila Seks dapat dibaca sebagai upaya membebaskan wacana seks dari beban moral palsu.


Dari sisi gaya bahasa, Ester menggunakan bahasa yang lugas, kadang satir, dan tidak jarang konfrontatif. Ia tidak berusaha menyenangkan semua pembaca. Justru ketidaksopanannya—dalam arti melawan norma kepantasan palsu—menjadi kekuatan utama buku ini. Gaya ini membuat pembaca dipaksa keluar dari zona nyaman dan berhadapan langsung dengan gagasan yang selama ini dihindari.


Namun, keberanian ini juga mengandung risiko. Bagi pembaca yang terbiasa dengan pendekatan normatif atau religius yang ketat, buku ini bisa terasa terlalu frontal. Tetapi justru di situlah letak nilai kritisnya. Ester tidak meminta persetujuan; ia mengundang perdebatan. Dalam tradisi esai yang sehat, perdebatan adalah tanda bahwa sebuah gagasan bekerja.


Secara tematis, buku ini juga menyentuh relasi antara seks dan kekuasaan. Seks tidak pernah netral. Ia selalu berkaitan dengan siapa yang boleh menginginkan, siapa yang boleh diinginkan, dan siapa yang harus diam. Dalam banyak kasus, kontrol atas seksualitas adalah bentuk kontrol sosial yang paling efektif. Dengan mengatur hasrat, masyarakat mengatur perilaku. Ester membaca fenomena ini dengan jeli, menunjukkan bahwa moralitas sering kali menjadi topeng kekuasaan.


Buku ini juga relevan dibaca dalam konteks generasi muda. Di satu sisi, generasi ini hidup di era keterbukaan informasi; di sisi lain, mereka masih dibebani norma lama yang tidak pernah dibicarakan secara sehat. Akibatnya, banyak kontradiksi muncul: akses mudah terhadap konten seksual, tetapi minim literasi seks yang kritis dan empatik. Ester menyoroti jurang ini tanpa menyederhanakan masalah.


Penting dicatat bahwa Sebab Kita Semua Gila Seks tidak sedang mengajak pembaca menjadi permisif tanpa batas. Buku ini tidak mempromosikan seks bebas sebagai solusi. Yang ditawarkan adalah kejujuran dan kesadaran. Bahwa sebelum menghakimi, manusia perlu memahami. Sebelum melarang, perlu berdialog. Dan sebelum berbicara tentang moral, perlu jujur pada diri sendiri.


Sebagai karya esai, buku ini berhasil menjalankan fungsinya: menggugah, mengganggu, dan memancing refleksi. Ia tidak menawarkan jawaban final, tetapi membuka ruang tanya yang lebih luas. Dalam masyarakat yang terbiasa dengan kepastian moral, pertanyaan sering kali terasa lebih berbahaya daripada jawaban. Ester memilih jalur pertanyaan, dan itu adalah pilihan yang berani.


Pada akhirnya, Sebab Kita Semua Gila Seks adalah buku tentang manusia—tentang hasrat, ketakutan, dan kepura-puraan yang kita rawat bersama. Seks hanyalah pintu masuk. Di baliknya, ada kritik terhadap cara kita hidup, menilai, dan menyembunyikan diri di balik norma. Buku ini mengingatkan bahwa menjadi manusia berarti berani jujur pada tubuh dan pikirannya sendiri, meskipun kejujuran itu terasa tidak nyaman.


Dengan segala kelebihan dan potensinya memicu kontroversi, buku ini layak dibaca sebagai teks kritis yang menantang cara pandang mapan. Ia tidak sempurna, tetapi justru ketidaksempurnaannya membuka ruang dialog. Dan mungkin, di tengah masyarakat yang gemar menghakimi, dialog adalah bentuk keberanian paling radikal

0 Response to "Membaca Hasrat dan Kepura-puraan Sosial dalam Buku Sebab Kita Semua Gila Seks Karya Ester Pandiangan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel