Kerja keras penggoda Manusia dalam Naskah Setan Bla-Bla-Bla di Atas Kursi Goyang karya Arthur S. Nalan
Naskah drama Setan Bla-Bla-Bla di Atas Kursi Goyang (Annus Horrobilis) karya Arthur S. Nalan merupakan teks teater reflektif yang membahas pergulatan batin manusia dalam menghadapi godaan, kesombongan, dan ilusi kehidupan. Naskah ini tidak menempatkan setan sebagai tokoh horor atau antagonis yang menyeramkan secara fisik, melainkan sebagai simbol kesadaran gelap yang hidup berdampingan dengan manusia. Melalui dialog-dialog filosofis dan simbol yang kuat, naskah ini mengajak pembaca dan penonton untuk meninjau ulang hakikat kejahatan, iman, dan tanggung jawab moral manusia.
Kerja keras penggoda Manusia dalam Naskah Setan Bla-Bla-Bla di Atas Kursi Goyang karya Arthur S. Nalan
Secara garis besar, isi naskah ini membicarakan relasi antara manusia dan setan yang tidak selalu hadir dalam bentuk bisikan kejahatan ekstrem, melainkan dalam bentuk kata-kata yang tampak rasional, nyaman, dan meyakinkan. Setan dalam naskah ini digambarkan sangat percaya diri dengan tugasnya: menggoda manusia sepanjang hidupnya dengan berbagai cara, terutama melalui kesombongan dan kebohongan batin. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ
(QS. Al-A’raf: 16–17)
Iblis berkata: “Karena Engkau telah menyesatkan aku, aku benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka.”
Ayat ini menjadi landasan teologis yang sangat relevan dengan isi naskah. Setan tidak digambarkan menyerang manusia secara frontal, tetapi mengepung dari berbagai arah, termasuk dari pikiran dan perasaan manusia sendiri. Dalam naskah Arthur S. Nalan, hal ini divisualisasikan melalui dialog setan yang tenang, logis, dan terkadang terasa masuk akal. Inilah bentuk godaan paling berbahaya: ketika kejahatan tampil seolah-olah rasional.
Salah satu simbol sentral dalam naskah ini adalah kursi goyang. Kursi goyang bergerak terus-menerus, namun tidak pernah berpindah tempat. Simbol ini merepresentasikan kehidupan manusia yang tampak aktif, sibuk, dan penuh rutinitas, tetapi sejatinya stagnan secara spiritual dan moral. Manusia merasa hidupnya berjalan, padahal sebenarnya hanya berputar di tempat yang sama. Setan dalam naskah ini “duduk” di atas kursi goyang tersebut, seolah menegaskan bahwa ia berkuasa atas kehidupan yang dijalani tanpa kesadaran dan refleksi.
Isi naskah ini juga membahas kesombongan manusia sebagai pintu utama masuknya godaan. Setan tidak selalu mengajak manusia berbuat dosa besar, tetapi cukup membuat manusia merasa benar, merasa aman, dan merasa tidak membutuhkan pertolongan Tuhan. Kondisi ini sesuai dengan peringatan Allah SWT:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
(QS. Fathir: 6)
Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuh.
Dalam naskah ini, manusia sering gagal menganggap setan sebagai musuh karena setan tidak selalu tampil menakutkan. Ia justru hadir sebagai pembenaran, sebagai suara yang menenangkan ego manusia. Arthur S. Nalan dengan cerdas menunjukkan bahwa ketika manusia berhenti waspada, setan tidak perlu bekerja keras untuk menyesatkan.
Selain itu, naskah ini membicarakan ketakutan manusia terhadap perubahan dan pilihan hidup. Banyak dialog dalam naskah menyinggung sikap manusia yang lebih memilih aman, nyaman, dan tidak mengambil risiko, meskipun pilihan tersebut menjauhkan manusia dari makna hidup yang sejati. Ketakutan ini menjadi lahan subur bagi setan untuk terus “duduk” dan menguasai kesadaran manusia. Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam tipu daya semacam ini:
وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ
(QS. Luqman: 33)
Dan janganlah kamu tertipu oleh tipu daya (setan) terhadap Allah.
Dalam konteks naskah, “tipu daya” bukan sekadar ajakan berbuat dosa, melainkan jebakan pemikiran yang membuat manusia merasa cukup dengan kondisi yang ada, meski sebenarnya jauh dari kebenaran dan kesadaran spiritual.
Naskah ini juga membahas pertarungan batin manusia yang bersifat internal. Konflik yang ditampilkan bukan konflik fisik, melainkan konflik ide dan kesadaran. Manusia dihadapkan pada pilihan: tetap duduk dalam kenyamanan palsu atau bangkit menghadapi kenyataan pahit tentang dirinya sendiri. Pertarungan ini mencerminkan ayat berikut:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
(QS. Asy-Syams: 7–8)
Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaan.
Ayat ini menegaskan bahwa manusia memiliki potensi baik dan buruk sekaligus. Naskah Arthur S. Nalan menempatkan setan sebagai katalis yang menguji pilihan tersebut, bukan sebagai penentu mutlak. Manusia tetap memegang kendali atas keputusannya sendiri.
Secara keseluruhan, isi naskah Setan Bla-Bla-Bla di Atas Kursi Goyang membahas kesadaran, godaan, kesombongan, dan stagnasi hidup manusia. Pesan utamanya adalah bahwa setan paling berbahaya bukan yang mendorong manusia pada dosa besar, melainkan yang membuat manusia berhenti bertumbuh, berhenti sadar, dan merasa nyaman dalam kebohongan batin. Kursi goyang menjadi metafora tajam tentang kehidupan yang tampak berjalan, tetapi kehilangan arah.
Melalui pendekatan simbolik dan dialog filosofis, Arthur S. Nalan berhasil menyampaikan pesan moral dan spiritual yang mendalam tanpa menggurui. Naskah ini mengajak pembaca dan penonton untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kita sedang berjalan menuju tujuan hidup, atau hanya bergoyang di tempat yang sama bersama setan yang kita biarkan duduk terlalu lama?
Konflik dalam Naskah Setan Bla-Bla-Bla di Atas Kursi Goyang
Konflik utama yang dibangun dalam naskah Setan Bla-Bla-Bla di Atas Kursi Goyang bersifat konflik batin (internal conflict), bukan konflik fisik atau konflik antar tokoh secara konvensional. Arthur S. Nalan dengan sengaja memusatkan konflik pada pergulatan kesadaran manusia ketika berhadapan dengan godaan setan yang hadir dalam bentuk rasional, persuasif, dan tidak agresif. Konflik ini berkembang melalui dialog yang memancing keraguan, ketakutan, serta pembenaran diri manusia.
Secara lebih spesifik, konflik dalam naskah ini terjadi antara kesadaran moral manusia dan dorongan batin yang dimanfaatkan oleh setan. Setan tidak memaksa manusia untuk melakukan dosa secara langsung, melainkan menggiring manusia pada kondisi stagnan—merasa aman, benar, dan tidak perlu berubah. Inilah konflik laten yang berbahaya, karena tidak disadari sebagai pertarungan moral, tetapi perlahan menguasai cara berpikir manusia.
Selain konflik internal, terdapat pula konflik ideologis yang tercermin dalam dialog-dialog antara tokoh manusia dan setan. Setan membawa ideologi kenyamanan, kesombongan, dan pembenaran diri, sedangkan manusia—meskipun ragu—masih menyimpan keinginan untuk hidup benar dan sadar. Benturan dua ideologi ini menjadi motor dramatik naskah. Konflik bukan diakhiri oleh kemenangan mutlak salah satu pihak, melainkan oleh kesadaran manusia terhadap tipu daya setan.
Konflik juga dimanifestasikan secara simbolik melalui kursi goyang. Kursi goyang menjadi pusat konflik visual dan makna. Selama manusia membiarkan setan “duduk” di atas kursi tersebut, konflik batin terus berlangsung tanpa penyelesaian. Kursi goyang yang bergerak tanpa berpindah tempat melambangkan konflik yang berputar-putar, tidak pernah selesai karena manusia enggan mengambil keputusan tegas.
Dalam perkembangan konflik, ketegangan meningkat bukan melalui aksi, tetapi melalui intensitas dialog dan pengulangan gagasan. Setan secara konsisten menegaskan bahwa manusia bebas memilih, namun setiap pilihan yang didorongnya selalu mengarah pada penundaan dan keengganan menghadapi risiko. Manusia, di sisi lain, semakin sadar bahwa ketidakberanian memilih sama berbahayanya dengan memilih jalan yang salah.
Dengan demikian, konflik dalam naskah ini dapat dirumuskan sebagai konflik antara gerak dan diam, kesadaran dan pembiaran, serta iman dan kesombongan batin. Arthur S. Nalan menunjukkan bahwa konflik terbesar manusia bukanlah melawan kekuatan luar, melainkan melawan kecenderungan dalam dirinya sendiri yang ingin aman tanpa tanggung jawab. Inilah konflik eksistensial yang menjadi inti naskah dan sekaligus pesan moral utamanya.
0 Response to "Kerja keras penggoda Manusia dalam Naskah Setan Bla-Bla-Bla di Atas Kursi Goyang karya Arthur S. Nalan"
Post a Comment