Ruang Rapat yang Sepi: Kenapa Organisasi Mahasiswa Mulai Ditinggalkan - tajukkisto

Ruang Rapat yang Sepi: Kenapa Organisasi Mahasiswa Mulai Ditinggalkan

 Ruang Rapat yang Sepi: Kenapa Organisasi Mahasiswa Mulai Ditinggalkan




Ada satu pemandangan yang belakangan ini terasa makin sering ditemui di kampus: ruang sekretariat organisasi mahasiswa yang pintunya setengah tertutup, lampunya mati, dan papan jadwal kegiatannya berisi agenda lama yang entah kapan terakhir diperbarui. Dulu, ruangan semacam ini adalah pusat semesta. Sekarang, ia lebih mirip museum kecil tentang masa lalu yang pernah dianggap penting.


Saya pernah menjadi bagian dari organisasi mahasiswa. Pakai jaket almamater kebanggaan, rapat sampai malam, debat panjang soal konsep acara, lalu pulang dengan kepala pening tapi hati merasa berguna. Maka ketika organisasi mahasiswa mulai ditinggalkan, saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan generasi sekarang. Ada sesuatu yang berubah, dan perubahan itu tidak sesederhana “anak muda sekarang malas”.


Dari Ruang Diskusi ke Grup WhatsApp yang Sunyi


Organisasi mahasiswa dulu identik dengan diskusi panas dan rapat panjang. Sekarang, diskusi pindah ke grup WhatsApp. Rapat pun sering berakhir dengan pesan, “Maaf izin off dulu, ada kerjaan.” Bukan karena tidak peduli, tapi karena hidup memang makin padat.


Mahasiswa hari ini hidup di era multitasking ekstrem. Kuliah, kerja part time, magang, lomba, freelance, dan masih harus menjaga kesehatan mental. Di tengah semua itu, organisasi mahasiswa yang menuntut kehadiran fisik dan komitmen waktu panjang jadi terasa berat.


Bukan organisasinya yang salah. Konteks hidup mahasiswanya yang berubah.


Idealismenya Masih Ada, Wadahnya yang Dipertanyakan


Banyak orang mengira mahasiswa sekarang apatis. Padahal, mereka tetap peduli. Isu sosial masih ramai dibicarakan, hanya saja caranya berbeda. Mereka lebih memilih petisi online, kampanye media sosial, atau komunitas berbasis minat yang lebih cair.


Organisasi mahasiswa sering kali masih bergerak dengan pola lama: struktural, hirarkis, dan birokratis. Padahal generasi sekarang tumbuh di budaya yang lebih fleksibel dan anti ribet. Ketika idealisme dipaksa masuk ke sistem yang kaku, yang terjadi bukan perlawanan, tapi penghindaran.


Politik Kampus yang Terlalu Serius untuk Usia Dua Puluhan


Salah satu alasan organisasi mahasiswa ditinggalkan adalah aroma politik internal yang terlalu menyengat. Rapat tidak lagi membahas gagasan, tapi posisi. Bukan lagi soal dampak, tapi jabatan.


Bagi mahasiswa yang hanya ingin belajar berorganisasi dan berkontribusi, situasi ini melelahkan. Mereka datang dengan niat belajar, pulang dengan rasa muak. Tidak semua orang siap bertarung di arena politik mini yang kadang lebih ribut dari DPR—tanpa gaji pula.


Di titik ini, organisasi kehilangan daya tariknya sebagai ruang belajar, berubah jadi arena adu ego.


Sertifikat vs Pengalaman: Pergeseran Motivasi


Organisasi mahasiswa dulu dipandang sebagai tempat menempa karakter. Sekarang, sering kali diposisikan sebagai alat pengumpul sertifikat. Ironisnya, ketika sertifikat itu tidak lagi terlalu berpengaruh di dunia kerja, motivasi pun ikut menguap.


Perusahaan lebih tertarik pada skill dan pengalaman konkret. Mahasiswa pun menyesuaikan. Mereka memilih magang, proyek, atau komunitas yang langsung terasa manfaatnya.


Organisasi mahasiswa kalah bukan karena tidak penting, tapi karena gagal menjelaskan relevansinya di dunia yang serba praktis.


Kritik Sosial: Kampus yang Bangga, Tapi Enggan Berbenah


Kampus sering bangga dengan banyaknya organisasi mahasiswa. Tapi bangga saja tidak cukup. Dukungan sering kali berhenti di spanduk dan sambutan pembukaan acara.


Minim fasilitas, dana terbatas, dan aturan berlapis membuat organisasi mahasiswa sulit bergerak. Ketika organisasi tidak diberi ruang untuk berkembang, jangan heran jika mahasiswanya memilih jalan lain.


Ini bukan semata kesalahan mahasiswa, tapi kegagalan ekosistem kampus membaca zaman.


Narasi Personal: Dulu Bertahan, Sekarang Mengerti


Kalau saya kembali jadi mahasiswa hari ini, mungkin saya juga akan berpikir dua kali untuk aktif di organisasi. Bukan karena tidak peduli, tapi karena energi terbatas dan pilihan semakin banyak.


Saya masih percaya organisasi mahasiswa punya nilai. Tapi nilai itu harus dirasakan, bukan hanya diceramahkan. Mahasiswa tidak butuh pidato tentang kepemimpinan; mereka butuh ruang yang relevan, sehat, dan tidak memakan semua waktu hidupnya.


Organisasi yang Terlalu Sibuk Meniru Masa Lalu


Banyak organisasi mahasiswa terjebak nostalgia. Terlalu sibuk mempertahankan tradisi, lupa mengevaluasi kebutuhan anggota. Padahal, zaman berubah cepat.


Organisasi yang tidak adaptif akan ditinggalkan. Bukan karena mahasiswa jahat, tapi karena hidup menuntut efisiensi.


Bukan Mati, Tapi Berubah Bentuk


Organisasi mahasiswa sebenarnya tidak mati. Ia hanya bergeser. Dari struktur besar ke komunitas kecil. Dari rapat panjang ke kolaborasi singkat. Dari formal ke informal.


Yang perlu dilakukan bukan memaksa mahasiswa kembali, tapi mengubah cara organisasi hadir. Lebih cair, lebih relevan, dan lebih manusiawi.


Penutup: Sepi yang Perlu Didengar


Sepinya organisasi mahasiswa bukan pertanda kiamat gerakan kampus. Ia adalah sinyal. Bahwa ada yang perlu dibenahi. Bahwa idealisme masih hidup, tapi sedang mencari rumah baru.


Dan seperti semua rumah, jika ingin dihuni, ia harus nyaman—bukan sekadar megah di cerita masa lalu.

0 Response to " Ruang Rapat yang Sepi: Kenapa Organisasi Mahasiswa Mulai Ditinggalkan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel