Membongkar Liang: Tentang Lubang, Sumur, dan Manusia yang Pulang tapi Tidak Pernah Benar-Benar Sampai - tajukkisto

Membongkar Liang: Tentang Lubang, Sumur, dan Manusia yang Pulang tapi Tidak Pernah Benar-Benar Sampai

 Membongkar Liang: Tentang Lubang, Sumur, dan Manusia yang Pulang tapi Tidak Pernah Benar-Benar Sampai








Kalau ada naskah teater yang sejak judulnya saja sudah bikin tidak enak badan, Liang karya Putut Buchori adalah salah satunya. Ia tidak memakai kata yang heroik. Tidak puitis. Tidak menjual tragedi secara terang-terangan. Hanya satu kata pendek: liang. Tapi justru dari situ, persoalan dimulai.


Dalam pengalaman saya mengikuti bedah naskah Liang, ada satu hal yang langsung terasa: naskah ini tidak ingin dipahami secara cepat. Ia meminta pembacanya untuk pelan, bahkan rela tersesat. Dan semakin dibedah, semakin jelas bahwa liang di sini bukan sekadar benda, tapi cara pandang terhadap manusia dan hidupnya.


Liang: Bukan Sekadar Lubang, tapi Ruang Terjebak


Secara harfiah, liang adalah lubang. Bisa liang kubur, liang sumur, liang tanah. Tempat yang sempit, gelap, dan biasanya berkaitan dengan akhir. Tapi dalam Liang, makna ini diperluas. Liang menjadi metafora ruang batin manusia yang terperangkap.


Dalam diskusi bedah naskah, kami sampai pada satu kesimpulan penting: liang bukan tentang kematian, tapi tentang ketidakselesaian. Tentang sesuatu yang dikubur setengah hidup. Tentang masa lalu yang tidak benar-benar mati, tapi juga tidak pernah selesai.


Tokoh-tokoh dalam Liang seperti hidup di liang masing-masing. Mereka berbicara, bergerak, berinteraksi, tapi sebenarnya terkurung. Tidak ada yang benar-benar bebas. Liang menjadi simbol ruang sempit yang dibangun oleh trauma, rasa bersalah, dan keputusan yang tidak pernah dibereskan.


Menariknya, Putut Buchori tidak pernah menjelaskan liang itu secara gamblang. Ia membiarkan pembaca dan penonton menafsirkan sendiri. Dan di situlah naskah ini bekerja: ia memaksa kita bertanya, liang apa yang selama ini kita tinggali tanpa sadar?


Setting Sumur, Wasti, dan Mudik: Ruang Fisik yang Membawa Luka


Salah satu kekuatan Liang adalah setting ceritanya. Ada sumur, ada tokoh Wasti, ada peristiwa mudik. Sekilas, semua ini terasa sangat Indonesia. Bahkan banal. Tapi justru kebanalan itu yang membuatnya mengerikan.


Sumur dalam cerita Liang bukan sekadar latar. Ia adalah ruang simbolik. Sumur adalah tempat dalam, gelap, dan sering kali menjadi lokasi rahasia. Sesuatu yang jatuh ke sumur tidak mudah diambil kembali. Dalam konteks cerita, sumur menjadi perpanjangan dari liang: tempat menyimpan sesuatu yang ingin dilupakan.


Wasti, sebagai tokoh, bukan hanya individu. Ia membawa beban cerita. Ia adalah representasi ingatan yang tidak bisa dihapus. Dalam bedah naskah, kami melihat Wasti sebagai figur yang terus menarik tokoh-tokoh lain kembali ke masa lalu. Kehadirannya seperti suara dari dalam sumur—tidak selalu terlihat, tapi terus terdengar.


Lalu ada mudik. Kata yang biasanya penuh kehangatan. Pulang kampung. Bertemu keluarga. Tapi di Liang, mudik justru menjadi perjalanan menuju luka lama. Pulang bukan untuk menyelesaikan, tapi membuka kembali yang sudah lama dikubur.


Mudik di sini bukan gerak fisik semata, tapi gerak psikologis. Tokoh-tokohnya pulang ke tempat asal, hanya untuk menyadari bahwa tidak semua yang ditinggalkan bisa dimaafkan. Kampung halaman berubah menjadi ruang sempit, seperti liang besar yang menelan mereka kembali.


Dalam diskusi, kami sepakat bahwa Putut Buchori dengan sengaja memilih setting-setting ini karena dekat dengan keseharian kita. Sumur ada di banyak rumah. Mudik adalah ritual tahunan. Tapi lewat Liang, semua itu dipelintir menjadi ruang konflik batin.


Judul Liang dan Pesannya: Hidup yang Tidak Pernah Benar-Benar Lapang


Setelah membedah naskah cukup lama, pertanyaan penting muncul: apa sebenarnya pesan dari judul Liang?


Jawabannya tidak tunggal, tapi benang merahnya jelas: manusia sering hidup di ruang yang sempit, bahkan ketika merasa bebas. Liang adalah simbol kondisi batin manusia yang terkurung oleh masa lalu, norma, dan rasa bersalah.


Liang seperti ingin mengatakan bahwa tidak semua orang mati di liang kubur. Ada yang hidup bertahun-tahun di liang yang tidak terlihat. Liang ingatan. Liang trauma. Liang rahasia keluarga.


Naskah ini juga menyentil kebiasaan kita menutup masalah alih-alih menyelesaikannya. Mengubur, bukan membereskan. Menyimpan, bukan membicarakan. Dan suatu hari, liang itu menuntut untuk dibuka kembali.


Dalam bedah naskah, saya merasa Liang bukan naskah yang menawarkan harapan terang. Ia tidak menjanjikan resolusi yang rapi. Tapi justru di situ kejujurannya. Tidak semua hidup punya penutup manis. Tidak semua luka sembuh dengan dialog terakhir.


Sebagai naskah teater, Liang menantang aktor dan sutradara untuk berani bermain di kesunyian. Tidak banyak aksi. Tidak banyak ledakan emosi. Tapi tekanan psikologisnya konstan. Seperti berada di ruang sempit terlalu lama.


Setelah diskusi selesai, satu hal yang tertinggal di kepala saya adalah kesadaran bahwa Liang bukan naskah yang ingin disukai. Ia ingin dirasakan. Tidak nyaman, tapi perlu.


Dan mungkin itulah pesan terpenting dari judul Liang: hidup tidak selalu lapang. Kadang kita terjebak di ruang sempit buatan sendiri. Dan satu-satunya jalan keluar adalah berani menengok ke dalam, meski gelap dan menyakitkan.


Membedah Liang bukan sekadar membaca naskah. Ia seperti diajak berdiri di tepi sumur, menatap ke bawah, dan bertanya: apa yang selama ini kita sembunyikan di sana?


Pertanyaan itu, sayangnya, tidak selesai di ruang diskusi. Ia ikut pulang. Dan tinggal lama.

0 Response to " Membongkar Liang: Tentang Lubang, Sumur, dan Manusia yang Pulang tapi Tidak Pernah Benar-Benar Sampai"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel