Makan Ayam Utuh dari Ricis dan Pelajaran tentang Nafsu, Gengsi, dan Perut yang Terlalu Percaya Diri
Makan Ayam Utuh dari Ricis dan Pelajaran tentang Nafsu, Gengsi, dan Perut yang Terlalu Percaya Diri
Saya tidak pernah bercita-cita makan ayam utuh sendirian. Sejak kecil, ayam utuh selalu identik dengan acara besar: syukuran, hajatan, atau minimal buka puasa bersama keluarga besar. Ayam utuh itu makanan komunal. Bukan makanan personal. Tapi semua prinsip hidup itu runtuh ketika saya melihat konten ayam utuh dari Ricis berseliweran di layar ponsel.
Di situ ayam tampak utuh, mengilap, berminyak, dan penuh bumbu. Disajikan seolah berkata, “Ayo, kamu kuat.” Dan entah kenapa, saya percaya.
Keputusan makan ayam utuh dari Ricis sebenarnya tidak lahir dari lapar, tapi dari rasa penasaran. Ini penting dicatat. Banyak keputusan buruk dalam hidup memang tidak lahir dari kebutuhan, melainkan dari keinginan membuktikan sesuatu. Dalam kasus ini: membuktikan bahwa saya sanggup menghabiskan satu ekor ayam sendirian.
Pesanan datang. Kotaknya besar. Isinya satu ayam utuh yang tampak terlalu percaya diri. Aromanya langsung menyerang. Bumbu meresap, kulitnya kecokelatan, dan tampilannya seperti ayam yang sudah dilatih secara khusus untuk menggoda iman orang yang sedang diet.
Gigitan pertama adalah fase bulan madu. Enak. Gurih. Bumbunya ramai. Saya masih tersenyum, masih sok santai. “Ah, segini doang,” batin saya, yang jelas tidak belajar dari pengalaman hidup sebelumnya.
Ayam utuh itu besar. Lebih besar dari rasa percaya diri saya. Tapi saya lanjut makan. Paha pertama habis. Sayap menyusul. Saya mulai berkeringat ringan. Bukan karena pedas, tapi karena tubuh mulai menyadari bahwa ini bukan tantangan kecil.
Masalah terbesar dari makan ayam utuh itu bukan di awal. Bukan juga di paha atau sayap. Masalah sejati datang ketika nasi habis dan sambal tinggal kenangan, sementara ayam masih utuh secara moral.
Di titik itulah saya mulai mengenal kata eneg secara spiritual.
Daging ayam tanpa nasi dan tanpa sambal ternyata bukan sekadar makanan. Ia adalah ujian. Gurih yang tadinya menyenangkan berubah jadi agresif. Lemak yang awalnya menggoda mendadak terasa seperti dendam lama. Setiap gigitan tidak lagi memberi rasa senang, tapi rasa kewajiban.
Saya berhenti sejenak. Minum. Menatap ayam. Lalu menatap diri sendiri.
Ternyata nasi dan sambal itu bukan pelengkap. Mereka penyeimbang hidup. Tanpa nasi, daging ayam jadi terlalu jujur. Tanpa sambal, gurih jadi monoton. Tidak ada kejutan, tidak ada pelarian. Yang ada hanya rasa ayam yang terus-menerus, seperti hidup yang terlalu lurus tanpa hiburan.
Saya lanjut makan dengan wajah orang kalah. Bukan karena tidak enak—justru karena terlalu enak di awal. Daging bagian dada mulai terasa kering di mulut. Tenggorokan seperti minta ampun. Di momen itu saya sadar, ayam utuh ini dirancang untuk dimakan bersama karbohidrat, bukan ego.
Saya sempat berpikir menambah nasi. Tapi nasi sudah habis. Sambal pun sudah tidak bisa diharapkan. Seperti harapan-harapan lain yang datang terlambat.
Akhirnya saya makan pelan-pelan, bukan untuk menikmati, tapi untuk menyelesaikan. Di situ pengalaman kuliner berubah jadi refleksi hidup: terlalu sering kita mengambil porsi besar tanpa menyiapkan penyeimbangnya.
Ayam utuh tanpa nasi dan sambal adalah metafora yang kejam. Tentang bagaimana sesuatu yang lezat bisa berubah jadi beban ketika konteksnya hilang. Tentang bagaimana viral tidak selalu sejalan dengan kebutuhan tubuh.
Di situlah saya berhenti. Bukan karena ayamnya kalah enak, tapi karena tubuh saya sudah mengibarkan bendera putih.
Dan sejak hari itu, saya belajar satu hal penting:
jangan pernah meremehkan peran nasi dan sambal dalam hidup—terutama saat berhadapan dengan ayam utuh dan ambisi pribadi.
Masuk ke bagian dada, suasana berubah. Dagingnya tebal, padat, dan jujur. Tidak ada tipu-tipu. Setiap kunyahan seperti pengingat bahwa perut saya punya kapasitas, dan kapasitas itu sedang diuji tanpa persetujuan resmi.
Di titik ini, saya mulai refleksi hidup. Kenapa saya pesan ayam utuh? Kenapa tidak setengah? Kenapa saya mudah terprovokasi konten? Kenapa saya selalu merasa bisa, padahal sering kali tidak?
Makan ayam utuh dari Ricis ternyata bukan sekadar aktivitas kuliner, tapi pengalaman eksistensial. Ada fase penyangkalan, fase marah, fase tawar-menawar, dan akhirnya fase pasrah. Setiap tulang yang bersih adalah kemenangan kecil. Setiap sisa daging adalah rasa bersalah.
Yang menarik, ayam utuh ini dirancang untuk dimakan ramai-ramai. Tapi budaya konten membuat kita percaya bahwa segalanya bisa dikonsumsi sendirian. Makanan, pengalaman, bahkan beban. Ayam utuh jadi simbol zaman: porsi besar untuk ego yang juga besar.
Saya lanjut makan dengan tempo lebih lambat. Tidak ada lagi ambisi. Yang ada hanya strategi. Mana yang harus dihabiskan dulu, mana yang bisa ditinggal. Saya mulai memisahkan antara nafsu dan kebutuhan. Ini mungkin pertama kalinya saya belajar manajemen diri dari seekor ayam.
Di tengah proses itu, saya sadar: ayam utuh dari Ricis enak, tapi juga berlebihan. Bukan berlebihan rasanya, tapi berlebihan konteksnya. Ia lebih cocok jadi pusat meja, bukan pusat ambisi personal.
Akhirnya, saya menyerah terhormat. Ayam tidak habis. Perut penuh. Ego runtuh. Tapi ada pelajaran penting: tidak semua yang viral harus ditaklukkan. Tidak semua tantangan perlu diselesaikan.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa kita sering salah membaca sinyal tubuh karena terlalu percaya pada sinyal layar. Konten bilang kuat, perut bilang cukup. Dan sering kali, kita memilih percaya yang mana.
Makan ayam utuh sendirian bukan bukti kehebatan. Kadang justru bukti kurangnya rem. Tapi tidak apa-apa. Dari situ saya belajar menghargai batas, baik batas porsi, batas tubuh, maupun batas gengsi.
Setelah semua selesai, saya menatap sisa ayam dengan perasaan campur aduk. Ada puas, ada menyesal, ada ingin bercerita. Dan di situlah saya sadar: pengalaman makan ayam utuh ini memang tidak harus dimenangkan. Cukup diceritakan.
Karena pada akhirnya, ayam utuh dari Ricis bukan soal habis atau tidak habis. Ia soal bagaimana kita berhadapan dengan godaan zaman yang selalu berkata: “Ayo, satu lagi. Kamu pasti bisa.”
Padahal, kadang yang paling bijak adalah berhenti, minum air, dan mengakui bahwa perut kita bukan konten kreator.

0 Response to "Makan Ayam Utuh dari Ricis dan Pelajaran tentang Nafsu, Gengsi, dan Perut yang Terlalu Percaya Diri"
Post a Comment