Krama yang Menghilang: Ketika Pemuda Lebih Fasih “Bro” daripada “Nuwun Sewu” - tajukkisto

Krama yang Menghilang: Ketika Pemuda Lebih Fasih “Bro” daripada “Nuwun Sewu”

 Krama yang Menghilang: Ketika Pemuda Lebih Fasih “Bro” daripada “Nuwun Sewu”




Saya pertama kali sadar ada yang ganjil ketika seorang pemuda—sebut saja usia awal dua puluhan—menyapa orang yang jelas-jelas lebih tua darinya dengan kalimat, “Eh, bro, mau ke mana?” Tidak ada maksud kurang ajar, tentu saja. Nadanya santai, senyumnya tulus. Tapi ada sesuatu yang hilang di situ. Bukan sopan santunnya, melainkan bahasanya. Bahasa krama, yang dulu terasa otomatis, kini seperti barang antik: masih diingat, tapi jarang dipakai.


Di banyak desa dan kota Jawa hari ini, pemuda yang lancar berbahasa krama bisa dihitung dengan jari. Bukan karena mereka tidak sopan, tapi karena krama sudah tidak lagi menjadi bahasa pergaulan. Ia terpinggirkan oleh bahasa Indonesia, slang media sosial, dan kosakata “anjay–bro–gas”.


Bahasa yang Dulu Diajarkan Tanpa Buku


Dulu, krama tidak perlu diajarkan secara formal. Ia mengalir lewat keseharian. Anak-anak belajar krama dari cara orang tua berbicara dengan tetangga, dari obrolan di dapur, dari teguran halus ketika salah ucap. Krama bukan mata pelajaran, tapi laku hidup.


Sekarang, pola itu pelan-pelan menghilang. Banyak orang tua tidak lagi menurunkan krama secara aktif. Alasannya beragam: takut anak bingung, merasa bahasa Indonesia lebih praktis, atau sekadar karena mereka sendiri sudah jarang memakainya.


Krama pun berubah status: dari bahasa hidup menjadi bahasa seremonial—dipakai saat acara resmi, pidato, atau sambutan yang dibaca dari teks.


Pemuda Bukan Antagonisnya


Sering kali, pemuda disalahkan. Dibilang tidak sopan, tidak tahu unggah-ungguh, tidak menghargai budaya. Padahal kenyataannya lebih sederhana: mereka tidak dibekali ruang untuk mempraktikkan krama.


Bagaimana mau fasih kalau tidak pernah dipakai? Bagaimana mau terbiasa kalau setiap kali mencoba, malah diejek: “Ih, kok kaku banget ngomongnya?”


Krama akhirnya kalah oleh bahasa yang memberi rasa aman: bahasa Indonesia yang netral, atau slang yang terasa akrab. Bukan karena krama buruk, tapi karena ia tidak lagi ramah bagi penuturnya sendiri.


Krama di Tengah Dunia yang Egaliter


Ada juga faktor zaman. Dunia hari ini lebih egaliter. Jarak usia dan jabatan terasa lebih cair. Orang ingin dipanggil “Mas” bukan “Bapak”. Ingin dianggap teman, bukan figur yang harus dijaga jaraknya. Di konteks ini, krama sering dianggap terlalu formal, terlalu jauh, terlalu “feodal”.


Padahal, krama tidak selalu soal hierarki. Ia juga soal kepekaan. Soal tahu kapan harus merendah, kapan harus menjaga jarak dengan hormat. Tapi nilai itu sulit bertahan ketika semua orang ingin serba cepat dan setara.


Pengalaman Pribadi: Canggung tapi Penting


Saya sendiri tidak selalu fasih krama. Kadang salah kata, kadang mencampur aduk. Dan setiap kali mencoba, selalu ada rasa canggung—takut terdengar dibuat-buat. Tapi justru dari kecanggungan itu saya belajar bahwa krama bukan soal lancar, tapi niat menghormati.


Ada perasaan berbeda ketika berbicara krama dengan orang tua. Percakapan terasa lebih pelan, lebih hati-hati. Seolah bahasa memaksa kita untuk tidak sembrono. Dalam dunia yang serba reaktif, ini sebenarnya keunggulan, bukan kelemahan.


Pendidikan Bahasa yang Kehilangan Ruh


Di sekolah, bahasa Jawa diajarkan. Tapi sering kali terjebak pada hafalan dan ujian. Krama jadi materi tes, bukan alat komunikasi. Anak-anak belajar definisi, bukan rasa. Akhirnya, krama terasa seperti beban akademik, bukan kebutuhan sosial.


Di luar sekolah, ruang praktik makin sempit. Di rumah tidak dipakai. Di media jarang muncul. Di ruang publik terasa asing. Maka wajar jika pemuda memilih bahasa yang paling fungsional.


Kritik Ringan: Budaya yang Ingin Lestari tapi Tidak Dipakai


Kita sering bilang ingin melestarikan budaya. Tapi pada saat yang sama, kita tidak memberinya ruang hidup. Krama diminta lestari, tapi tidak diajak ngobrol. Diharapkan ada, tapi tidak digunakan.


Ini seperti ingin tanaman tetap segar tanpa pernah menyiramnya.


Penutup: Tidak Punah, Tapi Menyepi


Krama mungkin tidak punah. Tapi ia sedang menyepi. Menunggu dipanggil kembali, bukan sebagai simbol, tapi sebagai praktik. Bukan untuk menghidupkan feodalisme, tapi untuk merawat kepekaan sosial.


Pemuda hari ini tidak kekurangan sopan santun. Mereka hanya kekurangan bahasa untuk mengekspresikannya dengan cara lama. Dan mungkin tugas kita bukan menyalahkan, tapi membuka ruang agar krama kembali terasa wajar—tidak sakral, tidak kaku, hanya manusiawi.


Karena pada akhirnya, bahasa bukan soal benar atau salah, tapi soal bagaimana kita memilih menghormati orang lain

0 Response to " Krama yang Menghilang: Ketika Pemuda Lebih Fasih “Bro” daripada “Nuwun Sewu”"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel