Etika Saat Membeli Makanan Lewat ShopeeFood
Etika Saat Membeli Makanan Lewat ShopeeFood
Di era serba digital, membeli makanan tidak lagi harus keluar rumah, antre, atau panas-panasan di pinggir jalan. Cukup buka aplikasi, pilih menu, klik pesan, lalu tunggu di rumah. Salah satu layanan yang kini akrab di kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia adalah ShopeeFood. Praktis, cepat, dan sering memberi promo. Namun, di balik kemudahan itu, ada satu hal yang sering terlupakan: etika.
Banyak orang menganggap pesan makanan lewat aplikasi hanyalah urusan klik dan bayar. Padahal, di sana ada manusia lain yang terlibat—mulai dari penjual UMKM, karyawan dapur, hingga driver yang berjibaku dengan panas, hujan, dan macet. Karena itu, etika saat membeli makanan lewat ShopeeFood menjadi hal penting agar ekosistem ini tetap sehat dan saling menghargai.
1. Memesan dengan Sadar, Bukan Sekadar Iseng
Salah satu etika paling dasar adalah memesan dengan niat yang jelas. Jangan memesan hanya karena iseng, bosan, atau sekadar mengejar promo jika belum yakin akan menerima pesanan tersebut. Membatalkan pesanan secara sepihak, apalagi saat makanan sudah diproses, bisa merugikan banyak pihak.
Bagi penjual, pesanan yang dibatalkan berarti bahan terbuang dan waktu terbuang. Bagi driver, itu berarti tenaga dan waktu yang sia-sia. Maka sebelum menekan tombol “Pesan”, pastikan alamat benar, saldo cukup, dan kamu benar-benar siap menerima makanan.
2. Membaca Deskripsi Menu dengan Teliti
Kesalahan umum pembeli adalah tidak membaca deskripsi menu, lalu kecewa sendiri. Contohnya, mengira porsi besar ternyata kecil, mengharapkan lauk tertentu padahal tidak tertulis, atau salah paham soal level pedas.
Etika yang baik adalah membaca informasi menu dengan saksama. Jika ragu, gunakan fitur chat untuk bertanya kepada penjual. Jangan langsung memberi ulasan buruk hanya karena ekspektasi pribadi tidak sesuai dengan deskripsi yang sebenarnya sudah jelas.
3. Menggunakan Catatan Tambahan Secara Wajar
ShopeeFood menyediakan kolom catatan untuk pembeli. Fitur ini seharusnya digunakan secara sopan dan masuk akal. Misalnya, “tolong sambalnya dipisah” atau “tanpa bawang”.
Yang tidak etis adalah menulis permintaan berlebihan seperti meminta tambahan lauk gratis, porsi diperbesar, atau instruksi dengan nada kasar. Ingat, catatan tambahan bukan tempat untuk menawar atau memerintah, melainkan untuk menyesuaikan pesanan secara wajar.
4. Menghargai Waktu Penjual dan Driver
Saat jam makan siang atau malam, pesanan biasanya membludak. Proses bisa sedikit lebih lama dari biasanya. Di sinilah kesabaran diuji.
Etika pembeli adalah memahami kondisi tersebut, bukan malah marah-marah atau menyalahkan driver. Jika terjadi keterlambatan, tanyakan dengan bahasa yang sopan. Driver hanyalah pengantar, bukan pihak yang memasak makanan.
5. Berkomunikasi dengan Bahasa yang Sopan
Fitur chat di ShopeeFood sering disalahgunakan untuk meluapkan emosi. Padahal, komunikasi digital tetap membutuhkan tata krama.
Gunakan bahasa yang sopan, tidak menyudutkan, dan tidak merendahkan. Kalimat sederhana seperti “Mas, apakah sudah diambil pesanannya?” jauh lebih manusiawi daripada “Lama banget sih!”. Etika komunikasi mencerminkan karakter kita, bahkan ketika hanya lewat layar.
6. Memberi Rating dan Ulasan Secara Adil
Rating dan ulasan sangat berpengaruh bagi penjual dan driver. Karena itu, berilah penilaian secara jujur dan adil. Jika makanan enak dan pelayanan baik, jangan pelit bintang. Jika ada kekurangan, sampaikan dengan bahasa yang membangun, bukan menghujat.
Hindari memberi rating buruk hanya karena faktor di luar kendali, seperti hujan, macet, atau aplikasi error. Ulasan yang baik bukan hanya kritik, tapi juga solusi.
7. Tidak Menyalahgunakan Promo dan Sistem
Promo adalah hak pembeli, tetapi menyalahgunakannya adalah tindakan tidak etis. Misalnya, membuat banyak akun palsu, memanfaatkan celah sistem, atau sengaja mengelabui penjual dan driver.
Perlu diingat, promo bukan hanya dari perusahaan besar, tapi sering kali berdampak langsung pada penghasilan UMKM dan driver. Menggunakan promo dengan wajar berarti ikut menjaga keberlangsungan ekosistem digital yang adil.
8. Menyediakan Alamat yang Jelas dan Akurat
Alamat yang tidak jelas sering menjadi sumber masalah. Driver kebingungan, waktu terbuang, dan emosi bisa naik. Etika pembeli adalah memberikan alamat lengkap, titik lokasi akurat, serta keterangan tambahan jika diperlukan.
Jika tinggal di gang kecil atau perumahan dengan sistem keamanan, informasikan sejak awal. Hal kecil ini sangat membantu driver dan menunjukkan sikap saling menghargai.
9. Siap Menerima Pesanan Saat Driver Tiba
Tidak etis jika driver sudah sampai tetapi pembeli sulit dihubungi atau lama keluar rumah. Driver bekerja berdasarkan waktu dan jarak. Menunda penerimaan pesanan berarti menunda rezeki mereka berikutnya.
Usahakan ponsel aktif dan segera mengambil pesanan ketika driver tiba. Jika terpaksa terlambat, sampaikan dengan sopan dan minta maaf.
10. Mengingat Bahwa Ini Bukan Sekadar Transaksi
Yang sering dilupakan: membeli makanan lewat ShopeeFood bukan hanya soal transaksi, tetapi soal relasi antar manusia. Ada penjual kecil yang menggantungkan hidup, ada driver yang bekerja keras demi keluarga.
Dengan bersikap etis, kita tidak hanya mendapatkan makanan, tapi juga ikut menciptakan ekosistem yang lebih manusiawi, adil, dan berkelanjutan.
Penutup
Kemudahan teknologi seharusnya tidak menghilangkan nilai kesopanan dan empati. Justru di tengah serba instan, etika menjadi penyeimbang agar semua pihak merasa dihargai. Etika saat membeli makanan lewat ShopeeFood bukan aturan tertulis yang kaku, melainkan kesadaran sederhana: memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Dengan memesan secara bijak, berkomunikasi sopan, dan memberi penilaian adil, kita ikut menjaga agar layanan ini tetap nyaman—bukan hanya untuk kita sebagai pembeli, tetapi juga untuk penjual dan driver yang bekerja di balik layar.
0 Response to " Etika Saat Membeli Makanan Lewat ShopeeFood"
Post a Comment